<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Emilianus Elip Blog</title>
	<atom:link href="http://emilianuselip.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://emilianuselip.wordpress.com</link>
	<description>--for the trust-sharing-and compassion--</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Dec 2011 18:01:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='emilianuselip.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/63e1da2db24ae50127cf1459cb94f9cf?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Emilianus Elip Blog</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://emilianuselip.wordpress.com/osd.xml" title="Emilianus Elip Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://emilianuselip.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dialog</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2011/11/07/dialog/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2011/11/07/dialog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 10:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Dialog “Nasionalisme” Fiksi Oleh: Emil E. Elip Seperti yang sudah-sudah, setiap menjelang perayaan Kemerdekaan RI kami bertiga naik gunung dekat kota kami, yaitu Gunung Merbabu. Menjelang peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus 2010 ini, kami pun sudah menapaki punggung gunung Merbabu dan beberapa jam lagi akan berada di puncak. Segala macam perbekalan dan alat pengamanan sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=405&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dialog “Nasionalisme” Fiksi</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p>Seperti yang sudah-sudah, setiap menjelang perayaan Kemerdekaan RI kami bertiga naik gunung dekat kota kami, yaitu Gunung Merbabu. Menjelang peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus 2010 ini, kami pun sudah menapaki punggung gunung Merbabu dan beberapa jam lagi akan berada di puncak.</p>
<p>Segala macam perbekalan dan alat pengamanan sudah dibawa: tenda, mantel hujan, matras, senter, korek api, rokok, kompor parafin, jligen berisi air, kopi, gula, obat-obatan, roti tawar dan selai, supermi, alat masak portable, dan tentu tidak lupa gitar, syair-syair lagu dan puisi serta bendera Merah Putih. Sekitar pukul 21:00 kami sudah tapaki puncak Merabu. Lalu mencari tempat cukup lapang, mendirikan tenda, mencari kayu bakar, lantas duduk ngobrol menikmati malam indah rembulan penuh berbintang sambil menunggu detik-detik jam 24:00.</p>
<p>Bendera Merah Putih sudah ditancapkan di puncak merbabu. Kami lalu minum kopi dan makan perbekalan yang ada, bernyanyi-nyanyi lagu perjuangan dan balada terutama koleksi Leo Kristie, puisi-puisi dilantuntan silih berganti. Berurat tegang kami berteriak seakan mau merobek malam dengan gelora nasionalisme. Akhirnya kami duduk termenung…entah karena kelelahan atau lantaran merefleksi terlalu dalam rasa nasionalisme dalam konteks kekinian di hati kami masing-masing…entahlah.</p>
<p>Dan keheningan lantas terpecah oleh dialog:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="43">A :</td>
<td colspan="3" valign="top" width="538">Adakah makna bagian kalian malam ini….</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">Entahlah A. Sudah bertahun-tahun kita lakukan ini&#8230;ya cuma di malam seperti ini ”nasionalisme”-ku mencuat bung&#8230;hari-harian nggak tahulah&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Sudahlah tak usah terlalu romantis-melankolis. Bikin nangis&#8230;bukan terharu akan rasa gelora nasionalisme&#8230;.tapi kalo aku ragu nasionalisme-ku ini ada apa tidak.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">Lho&#8230;E, maksunya itu apa yg kau rasa di hatimu itu&#8230;.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">A :</td>
<td colspan="3" valign="top" width="538">Aku menikmati sangat malam ini. Kalo tidak ada malam ini, kalau tidak kita lakukan seperti malam ini&#8230;aku mungkin nggak tahu gimana sih rasanya memiliki perasaan nasionalisme&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Mungkin nasionalisme itu kayak gini ya&#8230;dulu ketika ketika ada sedikit masalah dengan malaisia ”Ganyang Malaisia”&#8230;lantas hampir seluruh anak negeri ini berlantang ”Ganyang Malaisiaaaa”&#8230;. Ketika Aceh kena gempa dan Tsunami semua anak negeri bersedih dan membantu mau jadi volunteer&#8230; Itulah mungkin nasionalisme.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="581">Tiba-tiba kawan B masuk ke tenda. Membongkar-bongkar ransel dan keluar lagi menemui kami denga membawa Merah-Putih ukuran keci. Di injak-injaknya sang Merah Putih itu sampai lecek kena tanah merah, lantas dibuang ke api unggun. Kami berdua cuma kaget&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">Kok kalian berdua cuma diam saja. Marah Tidak. Tonjok aku tidak. Meludahi aku tidak. Bilang aku gila tidak&#8230;.apa ndak punya rasa nasionalisme?</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">A :</td>
<td colspan="3" valign="top" width="538">Kayaknya nggak kayak gitu deh membakar amarah nasionalime</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Trusss persisnya gimana ”rasa nasionalisme” kita itu ya&#8230;aku juga nggak marah tuh waktu kamu injak-injak Merah Putih. Ku pikir kamu mau nangis dan menyapu air matamu pakai bendera Merah Putih kecil itu&#8230;..eee tidak ha..ha&#8230;ha&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="581">Kami bertiga terdiam. Mungkin asik dengan lamunan kami masing-masing dalam menggali rasa dan empati nasionalisme. Baru saja kami tancapkan bendera. Baru saja kami berteriak pekak menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan balada penggugah semangat. Masih terngiang di telinga teriakan syair-syair kebangsaan. Dan baru saja kami saksikan bendera Merah Putih diinjak-injak&#8230;.(oleh salah satu teman)&#8230;dan kami diam saja.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Apa harus kita tunggu bencana gempa atau Tsunami lagi ya biar rasa gelora dan empati nasionalisme kita ini muncul&#8230;.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">Iya..ya&#8230;apa harus kita tunggu negara kita ini diserbu negara lain dulu atau berperang, biar ada tumbuh sentimen nasionalisme ya&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">A :</td>
<td colspan="3" valign="top" width="538">Tapi dulu waktu negara kita, meski yang maju TNI, melawan Timor Timor itu kok kita diam aja&#8230;malah asik nonton tembak-tembakan di tv&#8230;malah kadang kita bilang TNI melanggar HAM&#8230;waduh nggak jelas nih nasionalisme-ku bung&#8230;.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Bung&#8230;.siapa tahu ini siapa tahu lho&#8230;nasionalisme itu cuma barang ”fiktif”. Cuma semacam perasaan atau sentimen ”fiksi”&#8230; Dia cuma semacam ide hegemoni perasaan atau jiwa sentimental untuk mengentalkan pandangan bahwa kita ini punya ”negara”&#8230;Betul nggak!!</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">He..he&#8230;cerdas juga kamu E. Mungkin benar bung&#8230;buktinya kalau 45 juta tabung gas 3 Kg-an yang sudah siap meledak dan membakar rakyat sesama kita&#8230;.kok kita tidak marah atas nama nasionalisme meski harus menggempur pemerintah atau Pertamina. Mengapa itu cuma disebut demo besar-besaran hayoooo&#8230;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Woooo&#8230;.jadi mungkin nasionalisme itu hanya tumbuh di hati kalau kita ”berperang” melawan kekuatan di luar negara kita saja ya&#8230;atau kalau di dalam negeri terjadi bencana alam besar-besaran nah nasionalisme baru tumbuh di hati&#8230;.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">A :</td>
<td colspan="3" valign="top" width="538">Begini&#8230;kalau Anda berdua melihat di TV jaman bulu tangkis kita masih berjaya. Rudi Hartono atau Susi Susanti menang di All-England, lantas lagu Indonesia Raya menggema, para penonton Indonesia turut bersama-sama menyanyi menggetarkan stadion, bahkan ada yang meneteskan air mata&#8230;apa itu bukan perasaan nasionalisme.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top" width="581">Kami sempat terdiam sejenak. Statemen kawan kami A sungguh diluar dugaan. Sungguh beralasan, dan dibuktikan dengan realitas yang nyata. Nasionalismekah itu yang sedang merasuki kita, baik yang nonton bulu tangkis di Inggris sana maupun yang nonton di Indonesia melalui tayangan TV?</p>
<p>Entahlah&#8230;.masak nasionalisme cuma sesederhana itu. Menang juara I bulu tangkis internasional, Indonesia Raya dilantunkan, berdiri lantas menangis&#8230;nasionalismekah? Soal Indonesia Raya dinyanyikan itu sudah aturannya pertandingan. Soal menangis itu sangat subyektif tergantung takaran kadar sentimental seseorang. Memang banyak orang yang asal terharu menangis&#8230;asal terharu menangis. Aku kira itu bukan nasionalisme. Nasionalisme pasti adalah sesuatu yang lain&#8230;yang lain. Bukan Cuma seperti itu. Nasionalisme harus semacam ”gerakan pembaharuan”. Memperbaharui apa saja, dan yang mengundang sentimen kita bersama untuk bergerak menyatukan sentimen kita masing-masing bersama dengan yang lain di seluruh anak negeri. Itu!!!</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36">B :</td>
<td colspan="2" valign="top" width="502">Aku kurang setuju A.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43"></td>
<td valign="top" width="36"></td>
<td valign="top" width="36">E :</td>
<td valign="top" width="466">Tidak sesederhana itu A. Nasionalisme itu sesuatu yang ”besar”.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Kawan kami A tidak membantah dengan sanggahan kami berdua. Berarti statemen dia dengan mencontohkan kasus kemenangan All-England tadi bukan sesuatu teori yang dibangun untuk meng-counter kami. Dia mungkin kebetulan saja menunjukkan kenyataan, dan mengutarakannya untuk kami jawab dan juga dia jawab sendiri. Sepertinya si A pun tetap terpekur bingung.</p>
<p>Kami bertiga menyeruput kopi. Petikan gitar melantun dari jari jemari salah satu teman kami&#8230; dan berikut syair lagu Leo Kristie: <em>Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku</em> | <em>Padi-padi telah kembang</em> | <em>Ani-ani seluas padang roda giling berputar-putar</em> | <em>Siang malam, tapi bukan kami punya</em> | <em>Tapi bukan kami punya &#8230; </em>| <em>Anak-anak kini telah pandai, menyanyikan gema merdeka</em> | <em>Nyanyi-nyanyi bersama-sama, tapi bukan kami punya</em> | <em>Tapi bukan kami punya </em>&#8230; Dst. Sebuah tembang yang sungguh romantis dinyanyikan dimalam-malan seperti ini. Ah..jangan-jangan nasionalisme itu cuma perasaan ”romantisme” berbangsa-bernegara saja.</p>
<p>Dan memang telah bersemburat merah jingga di ufuk Timur gunung Merbabu. Menandakan sebentar lagi pagi datang. Kami masih duduk bermalas-malas. Menyeruput kopi sambil mendengarkan lantunan tembang. Akankah perlu kami simpulkan ”pelajaran apa” dari pendakian perayaan kemerdekaan RI Tahun 2010 ini. Entahlah&#8230; Apakah tahun depan akan kami rayakan lagi pendakian Merbabu untuk merayakan kemerdekaan RI 2011? Ya, kalau itu pasti sebab sudah menjadi keharusan dan kegiatan rutin.</p>
<p>Menjelang pagi kami turun. Tidak ada kesimpulan tentang apa itu nasionalisme malam ini. Sepertinya itu tidak masalah. Toh hari hari kami setiap hari tidak selalu bertautan dengan rasa, semangat ataupun motif nasionalisme. Apalagi di era kasus Bank Century, Kasus Lapindo, kasus mafia peradilan, ketimpangan kemiskinan, entah pusat maupun daerah berebut kekuasaan, tabung gas meledak menyengsarakan rakyat dan ”mereka” mau lepas tanggungjawab, korupsi, harga-harga merangkak naik&#8230;. Sepertinya kami bertiga sepakat nasionalisme tidak usah dibahas dulu, semakin kehilangan relevansinya&#8230;mungkin benar karena dia hanya fiktif dan cerita fiksi belaka [e.e]</p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=405&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2011/11/07/dialog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog on &#8220;Fiction of Nationalism&#8221;</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/31/dialog-nasionalisme-fiksi/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/31/dialog-nasionalisme-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 06:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Dialog on “Fiction of Nationalism” By: Emil E. Elip As always we had done before in every Independence Day celebrations ahead, three of us climbed the mountain near our town, namely Mt. Merbabu. Towards Independence anniversary this August 17, 2010, we had already climbed the ridge Merbabu, and a few more hours will be at [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=406&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dialog on “Fiction of Nationalism”<br />
</strong></p>
<p>By: Emil E. Elip</p>
<p>As always we had done before in every Independence Day celebrations ahead, three of us climbed the mountain near our town, namely Mt. Merbabu. Towards Independence anniversary this August 17, 2010, we had already climbed the ridge Merbabu, and a few more hours will be at the top.</p>
<p>All kinds of supplies and safety equipment has been taken: tents, rain coats, mattresses, flashlights, lighters, cigarettes, paraffin stove, jligen contains water, coffee, sugar, medicines, bread and butter, noodles, portable cooking tools, and certainly not forget the guitar, poems songs and poems as well as the flag. Around 21:00 we&#8217;ve near by Merabu peak. Then find a place quite roomy, setting up camp, gathering firewood, and sat chatting to enjoy the full moon is beautiful starry night while waiting for the seconds at 24:00.</p>
<p>Our country flag (Merah-Putih) was planted on top Merbabu. We then drank coffee and ate the existing provisions, singing patriotic songs and ballads, especially Leo Kristie collection, the poems shouted out. Our deep-tense shouting as if to rip the night with a surge of nationalism. Finally we sat &#8230; either because of fatigue or because of the reflection too deep sense of nationalism in the present context in each of our hearts &#8230; I do not know.</p>
<p>And the silence broken by dialog the three of us:</p>
<p>&#8220;Is there any meaning for you tonight &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;I do not know. It had been years we did this &#8230; well just on a night like this &#8220;nationalism&#8221; sticking out of my bung-day daily &#8230; do not know &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Please do not have too romantic-melancholy. Make cry &#8230; is not moved by a sense of the surge of nationalism &#8230;. but I doubt if my nationalism is what&#8217;s not. &#8220;</p>
<p>&#8220;Ooii &#8230; what you feel in your heart it &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;I really enjoyed tonight. If not there tonight, if we do not like tonight &#8230; I probably still do not know how it feels to have a sense of nationalism &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Maybe it&#8217;s like this the feel of nationalism &#8230; back when when there is a slight problem with Malaysia​​&#8221; Down Malaysia ​​&#8221;&#8230; and then almost all children of this country say &#8221; Down Malaisiaaaa &#8220;&#8230;. When the earthquake and Tsunami hit Aceh all children grieve and help the country would be a volunteer &#8230; That&#8217;s probably nationalism. &#8220;</p>
<p>Suddenly one of our friends into the tent. Rummage through the backpack and out again to see our premises to bring the Red-White ketch size. In the stampede stamp on the Red and White crumpled it up to hit the red soil, and then thrown into the fire pit. We both just shocked &#8230;</p>
<p>&#8220;How come you two just did not say anything I see this flag trampling. Not angry. I do not punch. I do not spit. Says I&#8217;m crazy &#8230;. what ndak not have a sense of nationalism? &#8220;</p>
<p>&#8220;I do not think like that on nationalism &#8220;</p>
<p>&#8220;Exactly how&#8221; a sense of nationalism &#8220;we were so &#8230; I&#8217;m also not upset you takes time treading Red and White. I think you want to cry and wipe away your tears little wear flag it &#8230;.. uh no .. ha ha &#8230; ha &#8230; &#8220;</p>
<p>The three of us fell silent. Maybe cool with each of our daydreams in exploring a sense of nationalism and empathy. We just plug it in the flag. Recently we shout deaf singing patriotic songs and ballads. Still ringing in ears shouting poems nationality. And we have just witnessed the flag being trampled by one &#8230;.( friends) &#8230; and we said nothing.</p>
<p>&#8220;What must we wait another earthquake or tsunami surge and yes I&#8217;ll feel empathy nationalism appears &#8230;.&#8221;, we corrected our friends break up.</p>
<p>&#8220;Yes .. yes &#8230; what shall we wait for our country invaded another country first, or at war, there will be  a growing sentiment of nationalism &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;But the first time our country, despite the advanced military, against East Timor&#8217;s why we wrote &#8230; still cool to watch even shooting at the tv &#8230; sometimes we even tell military to violate human rights &#8230; wow!!!! nationalism is not clear for me&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Heiii &#8230;. who knows this who knows you know &#8230; it&#8217;s just stuff nationalism&#8221; fictitious &#8220;. Just kind of feeling or sentiment &#8220;fiction&#8221; &#8230; He just sort of feeling the idea of ​​hegemony or sentimental soul to thicken this view that we have a &#8220;country&#8221; &#8230; Really not! &#8220;</p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">&#8220;He .. he &#8230; well you&#8217;re smart guys. It may be true  &#8230; the evidence that 45 million gas cylinders 3 Kg&#8217;s already ready to explode and burn the people of our neighbors we are not angry &#8230;. why in the name of nationalism, although they had to storm the government petrolium company Pertamina. Why is it just called a massive demonstration &#8230; &#8220;</div>
</div>
<div id="clear"></div>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">&#8220;Woooo &#8230;. so maybe it&#8217;s just growing nationalism in the hearts if we are&#8221; at war &#8220;against the forces outside our country, yes &#8230; or else in the country occurred a massive natural disaster ever to grow a new nationalism in the heart &#8230; . &#8220;</div>
</div>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr"></div>
<div dir="ltr">&#8220;Well &#8230; if you both look at our badminton TV era still prevail. Rudi Hartono or Susi Susanti win at the All-England, and then echoed the song of Indonesia Raya, all Indonesian audience singing along shook the stadium, and some even shed a tear &#8230; what it is not a feeling of nationalism?. &#8220;</div>
</div>
<p>We had time to pause. Our friend&#8217;s statement was beyond expectations. It was reasoned, and evidenced by tangible reality. Is that nasionalism that permeate our being, both in the UK watching badminton there as well as those watching in Indonesia through TV shows?</p>
<p>I don&#8217;t know &#8230;. is nationalisme so simple? Won international badminton champion, Indonesia Raya sung, then cried &#8230; is that nasionalism? Indonesia Raya has to be sung because it is the rules of the game. Bythewhy, crying it&#8217;s very subjective depending on the dose levels of a sentimental person. Indeed, many people moved from the origin was moved to cry &#8230; cry. I guess it&#8217;s not nationalism.</p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">Nationalism certainly is something else &#8230; . Not just like that. Nationalism must be some kind of &#8220;reform movement&#8221;. Renew anything, and invites our sentiment sense to be united together to move each of us along with the people around the country. That is nationalism!</div>
</div>
<p><span style="color:#000000;">&#8220;I do not agree!&#8221;, Said one of the brothers broke back atmosphere frozen.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s not that simple. Nationalism is something &#8220;big&#8221;, welcome others.</p>
<p>Friend who analogize sense of nationalism with the All-England case was not denied by the refutation of us. Means the statement he cited the case of a victory by the All-England theory was not something that was built to counter us. He&#8217;s probably just coincidence suggests a reality, and say it to our responsibilities and also her own responsibility. Looks like he was still brooded confused.-</span></p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">The three of us sipping coffee. Guitar played from one of our friends &#8230; and the following balad song lyric from leo Kristie, a famous bohemian balad singer: If to the city tomorrow morning, say I am so longing | paddy rice has flower | harvesting all paddy rice field, and huller spinning wheel rollers | Day and night, but instead we got | But instead we got &#8230; | The children now have smart, independent echoes sing | singing together, but instead we got | But instead we got &#8230; . A truly romantic song sung at night like this. Ah .. maybe the nationalism it was just a feeling of &#8220;romanticism&#8221; of the nation-state alone.</div>
</div>
<p>And indeed been soft-light orange-red in the eastern horizon Merbabu mountain. Indicates the morning come soon. We&#8217;re still sitting laze. Sipping coffee while listening to the  song. Will we have to conclude &#8220;what lessons&#8221; from the ascent of the celebration of the independence of Indonesia Year 2010. I do not know &#8230; Is next year we will celebrate again climbing Merbabu to celebrate the independence of Indonesia 2011? Yes, if it must be because they were made mandatory and routine activities.</p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">Then  we go down. No conclusions about what is nationalism tonight. That did not matter. After all day every day of our day do not always mesh with the flavor, the spirit of nationalism or motive. Especially in the era of the case of mob justice, inequality poverty, fighting over whether the central and local power, gas cylinder exploded misery to the people and &#8220;they&#8221; want to take responsibility, corruption, prices have crept up &#8230;. Looks like the three of us agreed nationalism need not be discussed first, increasingly losing their relevance &#8230; may be right because he is only fictional and fictional stories [ee]</div>
</div>
<p>[See this artikel ini Indonesian version at di http://www.kompasiana.com/emil-e-elip]</p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a> Tagged: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/tag/bussiness/'>bussiness</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/406/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=406&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/31/dialog-nasionalisme-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TV Program: “Ipin-Upin” and Education</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/27/televisi-%e2%80%9cipin-upin%e2%80%9d-dan-kadar-edukasi/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/27/televisi-%e2%80%9cipin-upin%e2%80%9d-dan-kadar-edukasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 08:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[TV Program: &#8220;IPIN-UPIN&#8221; and Education Seluruh jam tayang penyiaran televisi (tv) nasional dari seluruh stasiun tv besar di Indonesia, jika dikelompokkan berdasarkan jumlah jam tayangnya kira-kira hanya ada 3 tema tayangan besar yaitu: “Berita, Infoteinment, dan Iklan”. Di luar ketiga tema ini kesan saya sangat sedikit proporsi jam tayangnya, dan leh karenanya bisa dikata tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=400&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#00ff66;"><strong>TV Program: &#8220;IPIN-UPIN&#8221; and Education</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Seluruh jam tayang penyiaran televisi (tv) nasional dari seluruh stasiun tv besar di Indonesia, jika dikelompokkan berdasarkan jumlah jam tayangnya kira-kira hanya ada 3 tema tayangan besar yaitu: “Berita, Infoteinment, dan Iklan”. Di luar ketiga tema ini kesan saya sangat sedikit proporsi jam tayangnya, dan leh karenanya bisa dikata tidak ada pengaruh terhadap akumulasi image pemikiran masyarakat. Belum lagi sudah jam tayangnya sedikit, tidak bermutu isinya.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Tayangan “pemberitaan”, seperti apa isinya? Coba kita ambil tiga kasus besar terakhir, yaitu Bank Century (BC), Kasus Gayus (KG), dan Kasus Video Mesum Mirim Luna Ariel Cut-Tari (VMM-LAC). Yang dapat saya nikmati dari ketiga pemberitaan ini sampai sekarang adalah: ”sebelumnya tidak tahu dan sekarang jadi tahu”. Itu saja &#8230; lebih dari seminggu setelah masing-masing berita ini muncul, tayangan ditelivisi hanya mengulang dan mengulang dikemas dalam berbagai metode penyiaran namun isinya sama saja dan akhirnya&#8230;memuakkan!!! Cuma itu-itu saja!!</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Sementara dari penyiaran Infoteinment (termasuk di dalamnya berita tentang artis, sinetron, dan tayangan hiburan populer lain), jelaslah hanya ”pasar” yang dikejar dan saya rasa tidak ada muatan edukasinya. Coba saja Anda simak bagaimana siaran-siaran infoteinment, khususnya yang menyangkut pemberitaan para artis, cara penyajian siaran pemberitaannya sungguh seperti tidak mengenal ”kode etik” alias ”kacau”. Siaran jenis ini hanya menjual image dan sensasi. Dan tayangan ”iklan” sudah tentu hanya keuntungan yang dicari. Begitulah kedenderungan kepenyiaran media tv kita.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;"><strong>Atas Nama ”Kebebasan” Pers</strong></span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Para insan pers tv entah lpengelola statsiun tv maupun pekerja siaran, juga media publikasi dan kepenyiaran lain, mengatasnamakan ”kebebasan” pers. Logika berpikir yang dibangun yaitu pers bebas adalah muatan yang bermutu, mendidik, dan memberikan jalan pada perubahan bahkan transformasi sosial. Semakin ”bebas” pers, semakin dibutuhkan. Lagi-lagi ”kebebasan” akhirnya menjadi tema yang selalu diperdebatkan oleh berbagai pihak: insan pers, akademisi, pemerintah, agamawan, dan kelompok-kelompok masyarakat.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Kasus BC, KG, dan VMM-LAC ditayangkan pagi, siang, sore, dari jam ke jam, dan dikemas dalam berbagai bentuk acara oleh sekian banyak tv, berhari-hari berminggu-minggu. Mengapa para insan penyiaran tidak membuat tahap pemberitaaan berdasarkan perkembangan kasus. Blow-up dan ekspose yang bertubi-tubi itu menghasilan beberapa gambaran pemikiran yang bisa dicerna oleh masyarakat.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Pertama, hampir tidak ada ruang ”private” lagi bagi tokoh berita. Karena dia sudah salah (berdosa) maka ”rajam” saja, apalagi kadar kepopuleran beritanya bisa menguntungkan rating. Kebebasan pers telah bertindak berlebihan jauh melampaui kadar kemanusiawian dalam ”me-rajam” ruang pribadi. Nampaknya ini <em>unconciousness culture</em> dari bangsa kita yang mudah muncul ke permukaan jika menemukan pemicunya, yaitu: suka melanggar ranah private, tidak mampu membedakan urusan private dan urusan publik, dan relatif suka menghakimi secara massal. Persoalannya hal ini telah dan semakin menjadi ideologi, yang dicerna berulang kali oleh masyarakat luas, karena ”dihadirkan” setiap saat di mata, telinga dan otak kita, di rumah kita masing-masing.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Kedua, selain keterbukaan atas suatu realitas ketidakjujuran (korupsi) seperti di KG dan kasus-kasus lain serupa, arus pemberitaan yang tanpa henti seperti sedang pula menunjukkan bahwa ”kebohongan” itu sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Ambil saja tentang KG, ternyata hakim berbohong, pejabat berbohong, penyidik kepolisian juga berbohong, pengusaha berbohong, aknum perpajakan bebohong. Image personal yang terlibat dan tertayang di tv, sepertinya tenang-tenang saja masih bisa guyon tersenyum-senyum, menunjukkan bahwa kebohongan itu bukan persoalan berat dan enteng-enteng saja.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Para insan pers kepenyiaran mungkin tidak sadar bahwa relasi image ”koruptor &#8211;bicara enak-enak saja masih bisa guyon – penyidiknya yang juga enteng-enteng saja bahkan terkesan hati-hati” semua itu menumbuhkan gambaran (ide) baru bahwa ternyata kebohongan publik berupa korupsi dan semacamnya bukan hal ”memalukan”. Kalau ketahuan itulah nasib, kalau tidak ketahuan ya jalan jalan terus. Ini persoalan mengenai ”pengetahuan kode etik”, yang hanya diterjemahkan secara amat dangkal sebagai ”kesopanan” tindak-tindak jurnalisme.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;"><strong>Proporsional dan Edukatif</strong></span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Apakah penyiaran tv (level nasional) tidak ada yang edukatif? Jawabnya tentu ada. Tapi jika ditinjau secara kesuluran proporsional jumlah jam tayang, saya yakin kadar edukasinya rendah di banding kadar ”demi pasar” (kapitalisme) yang biasanya diukur dari angka rating, popularitas, dan prediksi segmen jumlah pemirsa. Jadi singkatnya, dari sudut struktur proporsi content siaran cenderung ”kurang edukatif”.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Dari sudut kode etik siaran (KES). KES tidak bisa diterjemahkan hanya tentang ”kesopanan” tindakan-tindakan jurnalisme. KES harus menyangkut serangkaian pengetahuan tentang ”intepretasi image”. Jika sebuah tayangan gambar ditambilkan apa yang sekiranya akan ditangkap oleh masyarakat, bukan saja dalam level ”artinya” tapi sampai tingkat makna ideologis yang dicerna publik. Beberapa makna ideologis yang negatif yang bisa dicerna publik antara lain: Makna kekerasan; makna kebutralan, makna kebohongan; makna ketelanjangan; dll.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Kita ambil satu contoh saja. Setiap hari selama berminggu-minggu berbulan-bulan, ditayangkan <em>image</em><em>ideologi</em>) dalam ruang <em>unconciousness</em> (bawah sadar) masyarakat adalah: ”kekerasan dan kebrutalan menjadi lumrah dilakukan jika perbedaan pendapat tidak tertahankan lagi”. Jadi pelajarannya adalah, membuka kran kepenyiaran sebebas-bebasnya membawa pengetahuan baru, tetapi jika kebebasan itu tidak terkontrol (tidak berarti tidak boleh sama sekali) dalam tingkat tertentu dia juga mengajarkan makna lain yang negatif. Jika tayangan semacam itu sempat dilihat setiap hari oleh anak dibawah lima tahun, yang secara perkembangan psikologis dalam tahap <em>mimesis</em> (menirukan), kita dapat prediksikan apa yang sedang kita tabung dibawah otak bawah sadar anak-anak itu.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Anak-anak adalah kelompok yang sangat rentan bagi sistem kepenyiaran tevelisi yang tidak mampu mengatur struktur proporsional kepenyiarannya, serta tidak mampu menyuguhkan penyiaran yang berdimensi sudut pandang edukatif. Dan dalam konteks ini, maaf bagi para insan pers kepenyiaran khususnya tv kita, masih menyedihkan.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;"><strong>Belajar Dari NHK dan ”Ipin-Upin”</strong></span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Setiap hari penulis menyempatkan melihat siaran tv NHK entah pagi, sore, atau malam hari. Jika tv para sidang pembaca bisa mengakses siaran NHK, cobalah dalam seminggu saja Anda mengakses NHK. Kita pilih NHK karena berlatar belakang ontologi kebudayaan Asia yang tidak jauh-jauh amat dengan kita. Kita bisa belajar bagaimana NHK memadukan siaran dengan proporsi relatif seimbang antara dimensi berita, entertainment/infotainment, khusus edukasi, dan feature-feature pembaharuan teknologi dan kultural dalam bentuk film dokumenter 20 menit. Pada setiap tema siaran inipun kita bisa belajar bagaimana NHK menjaga KES dan menyadari betul mengemas relasi image dan makna.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Saya tidak tahu persis visi dari NHK. Namun sebagai televisi Jepang yang level tayangannya internasiona, namun menonton tayangan-tayangannya kita bisa merasakan ada sebuah ideologi yang dibangun oleh NHK yaitu ideologi ”kebanggaan sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi”. Dan itu semua ditampilkan tidak dalam gaya ”bom-bas-tis”. Misalnya saja, setiap hari selalu ada tayangan 20 menit mengenai ”kebudayaan” Jepang. Isinya tidak hanya tentang budaya masa lalu. Namun mampu mengemas dari jaman dahulu sampai era millenium ini, dimana ditampilkan kemampuan kebudayaan dan nilai-nilainya bertransformasi dengan era kekinian.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Ini sebuah contoh saja. Pernah suatu kali NHK menyiarkan film dokumenter bertema kebudayaan tentang ”genteng” (atap rumah). Jepang mengenal tradisi atap rumah genteng dan tehnik membuat genteng, seperti kita juga di Indonesia dan kebudayaan-kebudayaan di Asia. Setiap daerah punya ciri khas tersediri. Genting rumah kuil, rumah bangsawab dan rakyat berbeda-beda. Sampai di era milenium ini genting model tradisional ini masih dipakai, juga ditunjukkan bahwa masing banyak ahli-ahli membuat genting tradisional yang tetap menjaga tehnik tradisional membuat genting sejak 400 tahun yang lalu. Tetapi hebatnya tayangan ini, tidak berhenti hanya pada kebanggaan mengenai tradisionalitas. Cerita kemudian dijalin bagaimana tehnik-tehnik tradisional itu telah bertransformasi dengan teknologi modern di Jepang dalam cara-cara membuat genting dan pemanfaatannya. Sungguh bisa kita ”baca” bagaimana benang merah tentang genting ini sejak masa lampau sampai sekarang, dan orang Jepang ”menghormati” kedua-duanya dan dipakai serta dihidupi sampai sekarang.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Itu satu contoh saja. Masih ada contoh lain film dokumenter budaya seperti tema: motif dan pakaian, boneka sampai robot, tehnik-tehnik bertani, penghormatan atas lingkungan, geisa dari masa ke masa, dll. Film-film ini terlihat jelas bagaimana kebudayaan Jepang menembus batas ruang dan waktu melalui transformasi, sekaligus membuktikan penghargaan orang Jepang atas segala bentuk perkembangan kebudayaannya. Meraka dalam waktu yang sama saat ini, menjaga yang tradisi, membentuk dan menerima yang baru, melalui penghargaan yang sama. Sementara itu, hanya ada sangat sedikit film dokumenter kebudayaan Indonesia, dan itu pun dalam kapasitas cinematografi yang perlu terus belajar (untuk tidak sekedar mengatakan masih rendah dan tidak membumi).</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Jika Anda menonton secara keseluruhan siaran salah satu saja dari tv nasional kita, apakah Anda merasa ”tersentuh” kebanggan diri Anda sebagai orang Indonesia melalui siaran-siaran yang ditayangkan tv tersebut? Jika Anda menonton NHK, seminggu saja sambil membayangkan Anda orang Jepang, kebanggan individual Anda sebagai orang Jepang akan terejawantahkan dalam siaran-siaran yang diproduksi oleh NHK. Kebebasan kepenyiarannya menyuguhkan kebenaran, keterbukaan, dan ketenangan estetik. Hanya pengelola dan pekerja jurnalisme kepenyiaran yang ”visioner” yang mampu menghadir tv dengan kehebatan kepenyiaran seperti digambar di atas.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Di dalam dunia tayangan per-televisian kita, menurut saya hanya ada satu tayangan yang berdimensi edukatif yang pas dengan konteks anak-anak, yakni ”Ipin-Upin” yang ditayangkan oleh TPI. Ipin-Upin memberi makna pembelajaran kepada anak-anak mengenai berbagai hal seperti: agama (melalui seri tentang puasa dan ramadhan); persaingan sehat dan kreativitas; kerja sama dan persahabatan multikultural; penghormatan terhadap ibu; dll. Hebatnya lagi semua ceritanya berkonteks lingkungan dan sosialitas kampung lengkap dengan model rumah panggung. Dialog percakapan dan jalinan alur cerita ditampilkan dalam format ”normal-proporsional” khas psikologi anak-anak yang penuh canda, kadang saling iri dan bersaing, manja, curi-curi kesempatan bermain, dll. Dan inilah sayangnya, serial Ipin-Upin itu bukan produksi orang Indonesia namun produksi Malaisia.</span></p>
<p><span style="color:#00ff66;">Nampaknya memang masih banyak yang harus kita benahi bersama terkait dengan produksi kepenyiaran kita, tidak dalam konteks untuk ”membatasi” kebebasan pers kepenyiaran. Jika pers dan pertelevisian disepakati sebagai media entertainmen dan sekaligus ”reproduksi nilai-nilai”, maka semakin banyak yang harus dibenahi tidak dalam segi fasilitasnya tetapi di dalam segi ”<em>software mind-set</em>” para insan pers dan kepenyiaran kita. [e.e]</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/400/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=400&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/27/televisi-%e2%80%9cipin-upin%e2%80%9d-dan-kadar-edukasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cofee, Football, and Liminality</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/23/ngopi-bola-dan-liminalitas/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/23/ngopi-bola-dan-liminalitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 04:42:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[liminalitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[COFEE, FOOTBALL, DAN LIMINALITY By: Emil E. Elip It has been about two weeks in Aceh, and even the world community, busy with the World Cup football party (WP) 2010. Feast of football it is &#8220;technically&#8221; was not so interesting, at most, only about strategy, the quality of players, team cohesiveness, and (maybe) good luck. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=393&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#cc99ff;"><strong>COFEE, FOOTBALL, DAN LIMINALITY</strong></span></p>
<p><span style="color:#cc99ff;">By: Emil E. Elip</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">It has been about two weeks in Aceh, and even the world community, busy with the World Cup football party (WP) 2010. Feast of football it is &#8220;technically&#8221; was not so interesting, at most, only about strategy, the quality of players, team cohesiveness, and (maybe) good luck. That&#8217;s it. But sociologically and international prestige, let alone a football match the level of PD, it becomes very interesting.</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">In the context of Aceh, the feast of the WP 2010 will also have a distinctive color and fun as lively and noisy  presented in coffeehouses. On ordinary days without the WP 2010, coffeehouses which is now increasingly widespread in Aceh (Banda Aceh in particular) is full of people, and will be more full of people when the foorball event done. &#8220;Coffee and watching the football&#8221;, for a moment become a popular culture in Aceh.</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">Drinking coffee at the coffee shop has become part of the culture in Aceh. Is it just because the average person in Aceh hooked  coffee or because was so delicious. Or is there something else behind it?! In the meantime, feast WP 2010 also has become part of the &#8220;world culture&#8221; if only for a moment. People in the countries of the football team never went round the world cup too excited and feel has a &#8220;world party&#8221; this.</span></p>
<p><span style="color:#cc99ff;"><strong>The Meaning of New Social-Relation</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">The skin round of ball, is unique and unpredictable. Who could suspect relations &#8220;win-lose&#8221; is played by him. Who would have thought that the teams responsibility of the major countries can be manipulated by the ball teams of the countries (relatively) poor &#8211; most &#8220;colored&#8221; &#8211; such as Cameroon, Gana, Uruguay, Nigeria, Slovenia, Serbia , South Korea, etc.</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">Every football team so well prepared though perhaps sprinkled &#8220;soccer star&#8221;, whether that of the countries of the rich, poor, superpowers, as well as former colonies, is is entering a sort of &#8220;empty space&#8221; when it participated in the round of World Cup 2010 this. Background of political relations between countries and international development become meaningless.</span></p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr"><span style="color:#ff99cc;">They all can only count but are not able to ascertain: between yes and no, can prosper but also humiliated, not above nor below. Using the term on socio-anthroplogy expert Victor Turner (in The Ritual Process: Structure and Anti-Structure; 1969), they are entering the &#8220;space of liminality &#8216;, a arena without a structure in which each person (party) has opportunity to find new meaning of life and their relationships on social life.</span></div>
</div>
<p><span style="color:#ff99cc;">Let us consider just as an example only. German team was defeated 0-1 by team of Serbia. Gana team could only subdued 0-1 by Germany which is a large and prosperous country. Even the Italy could be defeated 0-1 by the new comer state of Slovakia. Team of the superpower United State held 2-2 by Slovenia. If so, could you imagine what is happening in society of Gana, Serbia, Slovakia? Of course not only cheered, but an exceptional pride ranging from poor people to the head of the country, even all ethnicities and religions that exist in those country.</span></p>
<p><span style="color:#cc99ff;"><span style="color:#ff99cc;">Life of international politic  and development relationship has become a kind of rite that has been fragmented, full of pressures and threats. Feast of football WP 2010, as well as WPs before, became a kind of &#8220;ritual&#8221; in which new gold and glory and victory, going back meant that each party (team-state) always have the glory days respectively which in turn foster new energy to the people.</span><br />
</span></p>
<p><span style="color:#cc99ff;"><strong>Social Consolidatiob at Cofee Shop</strong><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">Cheering at the coffee shop in Aceh when a goal happens, or when his favorite team win, maybe just because hypnotically frenetic of the party globe football. No slang if not watching the ball, so to speak. The ball  may does not affect the meaning of our social relations  in Aceh, or if it is pulled back up to the level of nation-states. But keep in mind the splendor of coffee in the coffee houses in Aceh not only because there is a globe football party. The WP  2010 was only adds to the accumulation of noisy. Cofee house in Aceh is also unique, and is not a separate part of the socio-cultural context of Aceh. Why is that? It because &#8220;coffee&#8221; in the coffee houses in Aceh has been a &#8220;community&#8221; spaces of liminality as well.</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">Often times our daily life has become a kind of &#8220;ritual&#8221; in which a person bound by socio-cultural structures, rules, and norms both in the context of labor relations, religious, economic-trade, boss-subordinate, etc.. Where freedom is rare, can not be arbitrary way, where everything is accumulating that foster burnout, despair, cynicism, psychological pressures, will raise the energy of anger and perhaps even indivisual conflict.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr"><span style="color:#ff99cc;">So in a coffee shop, call it an expression of anti-structure, it can be a little shed without too bothered by the barriers and structures that bind. Drinking coffee at the coffee shop is not the territory &#8220;formal&#8221; but &#8220;informal&#8221; which limits the vertical-horizontal structuration has been a &#8220;gray sona&#8221; although still within the norms of decency. Yet it is precisely in the &#8220;dialogue&#8221; and &#8220;relation without structure&#8221; in the coffee houses that new energies of the various relations, social conditions, politics and governance, customs and culture, as well as economic-development, etc. in Aceh get readings and meaning is critical. Why? Since everyone is in a position of new relations that informal, and therefore it is daring to speak as equals.</span></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#cc99ff;"><strong>Learn from Liminality Situation</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;">In every culture a community, according to the experts said, there must be a &#8220;space&#8221; as a mechanism to escape from the shackles of ritual life. Forms and media of anti-structure situation may vary in each community according to the progress of time.</span></p>
<p><span style="color:#ff99cc;"> Liminality in a coffee shop in Aceh should be viewed in the broader context of the people of Aceh as a unified socio-cultural life. Drinking coffee in a coffee shop in Acehnese society has become a &#8220;symbol&#8221;, the need, as well as an arena to interpret or re-energize the productive growth of new alternatives, positive creations, even the opposition-critical of the conditions, rules and the existing social order.</span></p>
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr"><span style="color:#ff99cc;">Observations and in-depth study and constructively to the ideas developed in the coffee houses in Aceh, which will certainly contribute in no small part to the notion of development, social and cultural future of Aceh. So the party WP 2010 and have coffee together at the coffee shop in Aceh is a space of &#8220;liberation&#8221; to search for new meaning. Unfortunately, Indonesia&#8217;s national team is not able to enter the world fooot party ball, 2010. If it is able, football party at a coffee shop in Aceh is more lively! [ee]</span></div>
</div>
<p><span style="color:#cc99ff;">[This article on Indonesia version, publicated in local newsletter Harian Serambi-Banda Aceh,  30 Juni 2010]</span></p>
<hr size="1" />
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a> Tagged: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/tag/bussiness/'>bussiness</a>, <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/tag/liminalitas/'>liminalitas</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=393&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/23/ngopi-bola-dan-liminalitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Shadow of Democration</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/16/purak-puraknya-demokrasi/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/16/purak-puraknya-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 10:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>
		<category><![CDATA[democatization]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[The Shadow of Democration Politics is a process by which groups of people make collective decisions. The term is generally applied to behavior within civil governments, but politics has been observed in other group interactions, including corporate, academic, and religious institutions. It consists of &#8220;social relations involving authority or power&#8221; and refers to the regulation [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=389&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#99ccff;"><strong>The Shadow of Democration</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Politics is a process by which groups of people make <a title="Group  decision making" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Group_decision_making"><span style="color:#99ccff;">collective decisions</span></a>. The term is generally applied to behavior within civil <a title="Government" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Government"><span style="color:#99ccff;">governments</span></a>, but politics has been observed in other group interactions, including <a title="Corporation" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Corporation"><span style="color:#99ccff;">corporate</span></a>, <a title="Academia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Academia"><span style="color:#99ccff;">academic</span></a>, and <a title="Religion" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Religion"><span style="color:#99ccff;">religious</span></a> institutions. It consists of &#8220;social relations involving <a title="Authority" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Authority"><span style="color:#99ccff;">authority</span></a> or <a title="Power (philosophy)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Power_%28philosophy%29"><span style="color:#99ccff;">power</span></a>&#8221; and refers to the regulation of a political unit, and to the methods and tactics used to formulate and apply <a title="Policy" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Policy"><span style="color:#99ccff;">policy</span></a>.(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Politics"><span style="color:#99ccff;">http://en.wikipedia.org/wiki/Politics</span></a>)</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Democracy is a political form of government where governing power is derived from the people, either by direct referendum (<a title="Direct  democracy" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Direct_democracy"><span style="color:#99ccff;">direct democracy</span></a>) or by means of elected representatives of the people (<a title="Representative democracy" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Representative_democracy"><span style="color:#99ccff;">representative democracy</span></a>). …There are several varieties of democracy, some of which provide better representation and more freedoms for their citizens than others. However, if any democracy is not carefully legislated – through the use of balances – to avoid an uneven distribution of political power, such as the <a title="Separation of powers" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Separation_of_powers"><span style="color:#99ccff;">separation of powers</span></a>, then a branch of the system of rule could accumulate power and become harmful to the democracy itself. (http://en.wikipedia.org/wiki/Democracy)</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Begitulah kira-kira terjemahan bebas dari “kang”-Wiki di dunia maya. Kata kuncinya terletak pada <em>people make collective decisions</em>. Setelah saya baca berulang kali lalu dihubungkan dengan realitas keseharian yang ada di masyarakat kelas bawah, saya rasa rumusan di atas cenderung mewakili pikiran-pikiran para cerdik pandai, ilmuwan politik, dan puan-puan akademisi sejak jaman Aritoteles (<a title="384 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/384_SM"><span style="color:#99ccff;">384 SM</span></a> – <a title="322 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/322_SM"><span style="color:#99ccff;">322 SM</span></a>) mengajarkan pertama kali di Yunani.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Ketika pengertian politik dan demokrasi diformulasikan oleh Aristoteles, dia sudah mencapai pendidikan yang (relatif) suntuk dan kaya warna, pada situasi kematangan emosi pribadi yang puncak. Di dalam pikirannya dibayangkan pemerintahan negara demokrasi yang ideal dalam khasanah demokratisasi utuh, karena didialogkan dan dinegosiasikan oleh orang-orang serupa beliau atau yang dibawahnya meski dari latar belakang yang berbeda-beda. Orang-orang yang sedang berpolitik dan berdemokrasi, dalam bayangkan filsof itu, mungkin adalah orang yang tengah melakukan tindak luhur “bernegara” dengan dijiwai relung-relung hati nan faimiliar dengan syair, prosa, dan musik.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Entahlah sepertinya ketika Aristoteles hidup pandangan yang dipahami masyarakat kala itu mengenai bumi ini adalah sebidang tanah yang datar. Kemanapun larinya para bandit demokrasi dan pengkhianat negara pasti akan tertangkap, diseret ke depan podium lantas disuruh menjawab pertanyaan dari sidang rakyat. Namun ternyata pengetahuan tentang bumi bicara lain. Bumi adalah “bundar”, seperti bola pesta bola dunia juga “bundar”, dimana nyaris saja tidak ada orang yang mampu secara absolut memastikan dan memprediksi.  Sejarah kehidupan dan kebudayaan di bumi menjadi ribuan warna. Batas antara kebenaran dan kesalahan hampir tidak ada. Beda antara kejujuran dan kemunafikan jadi abu-abu. Ruang private dan ruang publik jadi tidak jelas. Lantas politik, demokrasi, dan negara telah menjadi ”barang dagangan”.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#99ccff;">&#8211; 1 &#8211;</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Aristoteles mungkin tidak menduga bahwa puluhan abad setelah masa hidupnya, dunia berubah begitu cepat. Ratusan negara terbentuk dan bukan Yunani tempat asal filosof yang menjadi “adikuasa”. Dan dalam proses pembentukan negara itu perang antar bangsa terjadi, bahkan dilatari perang antar “pemeluk” agama, penghilangan suku dan kelompok, ada kelompok bangsa yang dicap negro berkulit warna berkonotasi bodoh, udik, dan brutal.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Aristoteles mungkin juga tidak membayangkan, bahwa berabad-abad kemudian muncul terlalu banyak orang/kelompok dengan juga terlalu banyak alasan demi menjadi yang paling “berkuasa”.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Apa yang dimengerti oleh kalangan masyarakat bawah seperti tukang becak, buruh bangunan, sopir angkot, penjual nasi di trotoar, pengumpul barang rongsokan, pekerja tambang rakyat, dll, tentang politik nampaknya jauh berbeda dengan milik para “cerdik pandai” itu. Diantara percakapan-percakapan kalangan bawah sering tersembur dialog-dialog semacam berikut: ….mmm…bodoh kamu, kamu udah <em>dipolitiking</em>… / Allahhh….dia cuma mau main politik… / jangan mau kau terjebak dalam permainan politiknya…hati-hatilah…/ dst.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Percapakan di kalangan bawah tersebut membayangkan bahwa “politik” itu semacam momok. Satu tindak yang tidak disukai, tidak benar. Dia tidak ubahnya semacam tingkah laku akal-akalan, culas, melipat dalam tikungan, kalau perlu dengan menipu, bahkan mungkin dalam konteks pengkhianatan. Oleh karena itu menjadi ada konteksnya mengapa segala acara Pilkada pasti terjadi bentrok yang merugikan publik. Karena memang banyak Pilkada itu “curang”, dan di sisi lain bagi masyarakat Pilkada itu “politik” dalam ranah pengertian mereka yaitu politiking-melipat dalam tikungan-pasti ada culasnya-dll.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Terus bagaimana soal “demokrasi” dalam pandangan kalangan bawah. Jawabannya mudah, dan jangan di cari di teks book dan diktat. Jawabannya juga ada di ”narasi teks” masyarakat bawah, bahwa demokrasi itu ya si politik itu tidak ada bedanya. Kalau gambar besar politik itu kekacauan, demokrasi adalah juga kekacauan.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Di situkah pentingnya pendidikan politik dan demokrasi bagi rakyat kecil! Omong kosong&#8230;.sebab tidak ada referensi contoh. Para akademisi banyak yang berpolitik, para pengusaha apalagi banyak juga berpolitik, kaum agamawan tidak sedikit yang berpolitik, dan, contohnya banyak yang kurang baik. Model belajar rakyat kecil adalah dari ”contoh”, bukan pidato sampai mulut berbuih-buih apalagi disuruh baca teks books dan brosur-brosur.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Para petinggi polisi mengusut kasus ”Gayus” dan begitu pandainya mengkait-kaitkan asas praduga tidak bersalah, sehingga muncul kasus serupa sebagai rentetan baik yang menyeret para hakim, mahkamah agung, hakim di daerah serta oknum-oknum lain sebagai tersangka. Opini masyarakat jelas menganggap bahwa polisi  relatif bersih, cukup idenpenden karena lucu jika mengusut korupsi kok di dalam dirinya sendiri korup. Tetapi alhasil, pemberitaan di media masa bulan Juni sampai Juli 2010 mensinyalir banyak para petinggi kepolisian memiliki rekening yang ”diluar batas normal” sehingga disinyalir terlibat uang gelap (korupsi).</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Bila kasus Bank Century dan Gayus itu ditelanjangi bulat bulat disinyalir bisa melibatkan petinggi-petinggi pemerintah, kepolisian, jajaran kehakiman, bahkan juga DPR. Orang-orang itu setiap hari terlibat dalam tema-tema yang diajarkan Aristoteles: ”demokrasi dan politik tata negara”. Merekalah representasi yang telah dipilih rakyat untuk bekerja di ranah menegakkan panji-panji demokratisasi dan ketatanegaraan agar rakyat semakin sejahtera, maksmur, loh-jinawi, kecukupan sandang-pangan, aman, perut tidak lapar, dan hidup empat sehat lima sempurna.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Siapa tidak ”muak” jika akhirnya diketahui bahwa mereka ikut makan dan mengeruk uang haram korupsi itu. Logika apa yang bisa diajukan jika seorang penegak hukum, mengusut korupsi, namun direkeningnya ada sebagian dari uang korupsi itu, dan di publik bertingkah bak orang bersih berbicara tenang seperti penuh kebijaksanaan. Di blow-up di media sudah, dikritik dalam seminar-seminar juga sudah, di demo juga sudah, tetap saja tidak bisa berubah.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Dalam koteks dunia tanpa ujung seperti itu saya sering kali tergoda untuk setuju dilakukan ”gerakan revolusioner” seperti digariskan kang Gramci, seperti juga yang terjadi di Thailan akhir-akhir ini dengan ”gerakan kaos merah”. Tidak perlu perduli rakyat miskin bisa makan atau tidak selama gerakan itu berlangsung. Minta mereka bersabar menahan lapar karena saat gerakan digulirkan para demonstran mungkin seharian juga belum minum air putih diterik panas matahari. Bilang saja pada rakyat miskin itu ”maaf atas kekacauan sementara ini”, karena gerakan perlawanan terhadap oknum-oknum penguasa korup yang sering Anda lihat di televisi itu sedang dilakukan. Ini semua demi <em>common-sense</em>, kepentingan kita bersama politik dan demokratisasi yang lebih manusiawi bagi kita semua di masa depan di negara ini.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Sepertinya di dalam perkembangan sejarah di setiap negara dan bangsa di bumi ini, revolusi perubahan selalu dimulai dengan ”janji”. Jika tidak bagaimana bisa dapat energi dukungan untuk bergerak. Epistemologi revolusi gerakan selalu untuk ”perubahan”, pasti terkandung janji akan adanya kondisi lebih baik. Kekacauan dan kemiskinan yang terjadi pasca revolusi, itu hanya kondisi indikasi sebelum tercapainya ”kondisi lebih baik”. ”Percayalah pada gerakan ini, Percayalah”. ”Semua ini untuk kita juga, percayalah bergabunglah bersama sejarah ini”&#8230;itulah inti khotbah para pendekar persis khotbah para ulama, pendeta, dan pastor terhadap umatnya masing-masing. Sebagian besar ujung-ujung pidato-pidato itu adalah mensejajarkan bahwa politik dan demokratisasi  yang baik setara dengan kesejahteraan. Sebesar 50% dari pidato itu sesungguhnya omong kosong realitas&#8230;.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Masih terkait dengan carut marut korupsi tanpa ujung diatas, saya juga tergoda untuk mengamani cara-cara pemerintah Cina ”menghukum mati” ara koruptor, setelah pembuktian perkara secara sah, sahih, independen, jujur, bersih, dan agung. Tidak usah dipikir diktum-diktum hak-hak asasi manusia. Traktat hak asasi manusia tidak pernah akan bisa memenuhi rasa keadilan individu (manusia). Tentu saja ini tidak berarti kemudian hukum hak asasi manusia itu tidak penting. Hukum hak asasi itu diperlukan untuk mengatur agar manusia (individu maupun kelompok) tidak semakin bertindak ”brtutal” semau-maunya sendiri, sekaligus memberikan postulasi jangan sampai muncul pikiran untuk ingin bertindak brutal. Jika kebrutalan terlanjur terjadi lantas ada korban, maka cara menuntut balasnya pun diatur melalui hukum hak asasi itu juga, dimana tidak bisa menuntut balas semau-maunya sendiri secara brtutal.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Jika seorang oknum korupsi sekitar 10 M rupiah, mungkin sesungguhnya dia sudah merampas ”hak hidup” 10 sampai 20 orang rakyat miskin yang sampai orang-orang tersebut mati bahkan keturunannya pun mungkin tidak mampu mengumpulkan uang sampai sejumlah itu. Maka sang koruptor tersebut harus segera ditemukan, segera diproses hukum, dan segera di-”dor” sebab jika gagal takut dia berkesempatan lagi mengambil hak hidup 10 sampai 20 orang lagi. Bayangan saya jika ada ratusan ribu para koruptor kelas kakap di suatu negara, maka sebagian dari rakyat negara itu sesungguhnya sudah ”mati suri”.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#99ccff;">&#8211; 2 &#8211;</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Gambaran proses dunia politik tadi mengasumsikan bahwa politik menjadi baik dan agung jika “dimainkan” oleh orang-orang  “terdidik” (tidak harus dalam pengertian akademik) yang relatif telah matang emosi dan oleh karena itu siap melakukan “sharing value”. Mewartakan nilai-nilai yang dia pahami (bukan memaksakan) kepada orang lain. Namun di sisi lain dia mampu mendengar, mengapresiasi bahkan mencerap sisi baik nilai-nilai yang diwartakan oleh orang lain, dalam kedudukan setara. Tidak ada musuh politik, yang ada adalah mitra politik, oleh karena istilah “teman seperjalanan dan seperjuangan”  demi kesejahteraan rakyat menjadi punya makna.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Tingkah laku berdemokrasi secara individual maupun kelompok, tidak hanya memerlukan kematangan intelektual mengenai apa demokrasi itu. Dalam level individu berperilaku demokrasi membutuhkan kematangan ”emosional”. Saya tidak habis pikir kadang melihat berita di televisi ada perdebatan anggota dewan sampai-sampai melempar buku, sorong menyorong, dan baku hantam. Saya sangat meragukan bahwa pertikaian yang terjadi itu disebabkan karena saling ”mempertahankan prinsip” kejujuran, prinsip visi partai, prinsip pro-poor, pro-justice, atau semacamnya. Saya ingin menyebutnya sebagai ”perdebatan tingkat rendahan”. Dalam analisis aliran Gramcian, para dewan itu berdebat dalam level infrastrukur maupun struktur, yang memang secara realitas pasti berbeda antar individu, kelompok maupun golongan. Lain halnya jika mereka berdebat pada tataran superstruktur, maka tidak ada hal yang tidak bisa dipadukan karena ranah yang dimainkan adalah ranah nilai-nilai luhur universal. Mereka yang tidak mampu mengatasi realitas perbedaan kepentingan ini melalui pembacaan dalam  ranah universal (nilai lebih ideologis, lebih luhur), disitulah ukuran kapasitas atau lebis ektrimnya ukuran kebodohan (individual maupun kelompok).</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Itulah sebabnya kepada para pemegang kekuasaan yang ”dungu” seperti dijelaskan di atas, perubahan yang diharapkan hanya bisa dihantam melalui gerakan massa revolusioner sebab mereka tidak bisa lagi diingat melalui cara-cara yang adiluhung seperti diskusi, berdebat, teorisasi-kritis, bahkan disindir saja sudah tidak tahu lagi. Pada tataran individual, mereka yang merasa bahwa dirinya tidak mampu ”mendengarkan” pendapat orang lain, sebaiknya tidak usah mencalonkan diri sebagai politikus maupun negarawan. Sebab orang-orang ini hanya akan melakukan pengkhianatan atas demokratisasi. Dalam ranah dunia politik, mereka ini hanya akan menjadi ”bandit-bandit politik”.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Politik dan demokrasi yang baik (katakanlah ideal) hanya bisa dimainkan menjadi ”harmoni”, dan karena itu kemudian membuahkan keindahan bagi kemaslahatan semua, hanya jika dimainkan di dalam kondisi rakyat yang ber-”puisi, prosa, dan musik”. Ide-ide dasar manusia yang sedang memainkan ”demokrasi dan politik” mempunyai konvergen dengan ide-ide dasar manusia yang tengah ber-”puisi, prosa, dan musik”. Demokrasi dan politik hanya akan menumbuhkan ”emosi” (bhs Jw: ”mung marahi mangkel”) dan menumbuhkan kata-kota kotor, jika dimainkan oleh manusia-manusia emosional, temperamental, berpikiran pendek akibat kurang terdidik (educate) salah satunya rendah rata-rata pendidikan sekolahnya.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Melihat dari realitas saat ini tentang ”budaya temperamental” bangs kita, yang masih mudah emosi duluan dari pada nalar, merasa menang secara temperamental karena merasa jadi lebih ”terhormat”, cenderung masih suka jalan pintas, kurang bisa tersenyum atau memajang wajah datar saat orang lain berpendapat, dll, maka masih jauh kita dari demokratisasi yang diharapkan. Apa yang saya maksud dengan istilah ”yang diharapkan” ini sesungguhnya sederhana saja: ”demokrastisasi tanpa kerugian publik”: sudah itu saja. Itu saja pun masih lama bangsa ini harus belajar, apalagi jika dituntut relungh-relung lain yang sedikit ideal agar demokratisasi bisa berjalan baik misalny: transparansi Pilkada; transparansi hukum; tidak menunggangi organisasi publik untuk kepentingan hidden agenda politik individual; dan ratusan macam lain.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#99ccff;">&#8211; 3 &#8211;</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Jika ingin melaksanakan politik yang baik dan demokratisasi di bangsa ini, namun penegakkan hukum masih seperti yang kita dengan carut marut seperti ini, omong kosong bagi saya. Hanya menumbuhkan ”ngilu” di hati. Atau secara metodelogi hegemony kebudayaan yang luar biasa hebat, bangsa ini sedang dibuat bulan-bulanan oleh bermacam ideologi ilmu pengetahuan dan ukuran-ukuran kebenaran, sehingga bangsa ini tidak paham lagi mana yang cocok bagi bangsanya pada konteks saat ini. Ironisnya antar kelompok, antar etnis, antar wilayah, antar golongan dan macam-macam lainnya kita jadi saling curiga ”cara main” yang lain tentang politik dan demokratisasi. Jadi ”politik dan demokrasi” sudah seperti kartu domino, remi, maupun cheki. Kartunya sama warnanya, tapi kita jadi saling curiga dengan sesama. Gila!!!!</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Rasanya ingin sekali saya menganjurkan semua usulan, dalam rangka memulai ”politik dan demokratisasi” menjadi lebih jujur, arif, dan terhindar dari segala maca emosi curiga. Kita mulai dari peran ”kepolisian”, yang dikembali ke fitrah semula yaitu ke ”barak”. Peran utamanya adalah panglima penjaga ”keamanan dan ketertiban”: itu saja. Tidak usah berperan dalam ranah penyidikan yang berkaitan dengan perdata maupun pidana. Jika negara dan masyarakat merasa ”tidak aman dan terancam” maka masuklah polisi. Jika ada terorisme, bentrok antar kelompok, perampokan, ancaman bom&#8230;polisi masuk. Namun urusan penyidikan dan hukum serahkan ke institusi lain. Kalau institusi kehakiman dan kejaksaan dirasa juga penuh ”pengkhianatan” atas kebenaran, bentuk saja badan khusus penyidikan dan investigasi. Saya kira dengan cara begini  rasa keadilan dan demokratisasi akan ditegakkan.</span></p>
<p><span style="color:#99ccff;">Kalau sebagian besar rakyat berangsur-angsur merasa bahwa ”demokrasi” itu bersih dan tidak ada satu institusipun mampu ”memelintir” makna demokrasi, maka berangsur-angsur pula kejujuran berdemokrasi akan berjalan. Kejujuran berdemokrasi, ya&#8230;itu saja, sudah akan memberikan warna yang berlipat ganda dalam demokratisasi kita di lini manapun: politik lokal, desentralisasi, politik ekonomi, politik identitas, politik pembangunan, dll. Kejujuran adalah salah satu warna dari masyarakat yang sedang ber-”prosa, puisi, dan musik”. [ee]</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a> Tagged: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/tag/democatization/'>democatization</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=389&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/07/16/purak-puraknya-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Crawling for Democracy</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/28/merangkak-demi-demokrasi/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/28/merangkak-demi-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 07:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[MERANGKAK DEMI &#8220;DEMOKRASI&#8221; Bukan hanya satu atau dua saja bentrokan yang parah  merusak fasilitas publik dan properti masyarakat akibat dari proses Pilkada. Jika boleh mengatakan yang agak “besar” sedikit maka bisa dipastikan bahwa hampir setiap Pilkada pasti terjadi bentrokan yang ujung-ujungnya kerugian fasilitas publik dan rumah-rumah warga. Setiap hari kejadian ini selalu saja ada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=378&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">MERANGKAK DEMI &#8220;DEMOKRASI&#8221;</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Bukan hanya satu atau dua saja bentrokan yang parah  merusak fasilitas publik dan properti masyarakat akibat dari proses Pilkada. Jika boleh mengatakan yang agak “besar” sedikit maka bisa dipastikan bahwa hampir setiap Pilkada pasti terjadi bentrokan yang ujung-ujungnya kerugian fasilitas publik dan rumah-rumah warga. Setiap hari kejadian ini selalu saja ada di media masa cetak maupun televisi.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Jika kita lihat  (di televisi) ”amarah” yang muncul di kedua kubu, saya kadang menjadi tidak habis pikir strategi apa yang telah dibuat sehingga para antek-antek ini punya energi emosi gelap mata yang luar biasa. Begitu canggihkah persuasi para kader-kader kedua kubu. Obral janji uang, fasilitas, atau bentuk kekayaan material yang luar biasakah? Atau, terlalu bodohkah rakyat kita ini sehingga mudah dihasut, mudah di iming-iming janji, mudah terbuai mendengar pidato dengan mulut sampai berbuih-buih. Padahal mereka ini juga mungkin sering membaca berita, melihat televisi, atau mendengar isu-isu, bahwa dalam sejarahnya setiap kepala daerah baru setelah berkuasa pasti lupa akan janji-janjinya pada saat kampanye.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><strong>”Dunia Baru” Tidak Demokratis</strong></span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Demokrasi bisa kita bilang sekarang ini menjadi semacam ” dogma” dalam tata kelola pemerintahan. Paham atau tidak, masyarakatnya siap atau tidak, setiap daerah ingin disebut telah menjalankan demokratisasi, yang tonggak awalnya ditandai telah melaksanakan Pilkada yang demokratis.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Apakah demokrasi ini tumbuh dengan sendiri di setiap masyarakat dibelahan bumi ini? Jawabannya adalah ”ya”, sebab disinyalir oleh para ahli tata pemerintahan, sosiologi dan antropologi, bahwasannya di masyarakat-masyarakat adat sesungguhnya telah melakukan praktik-praktik falsafah demokrasi, yakni: musyawarah!!! Persoalannya para filosof dan pemikir-pemikir Barat-lah yang pertama-tama mampu merumuskan dan menuliskan falsafah dan praktik demokrasi ini dalam bentuk catatan-catatan tertulis yang bisa diajarkan dari generasi ke generasi.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Sejak sebelum masehi negara-negara cukup besar di Eropa seperti Yunani, Romawi (Italia), Jerman, Perancis, Belanda, dan Inggris, sudah belajar demokrasi ini bahkan telah menjadi bahan pengajaran di universitas-universitas. Seiring dengan era ekspedisi-ekspansi penemuan ”dunia baru” seperti Amerika, Amerika Latin, dan Asia, maka muncul kesadaran baru bahwa Eropa memimiliki kehidupan sosial dan pemerintahan yang lebih tertata dibanding di masyarakat-masyarakat dunia baru tersebut. Mereka (Eropa) menilai bahwa, karena sendi-sendi kehidupan yang demokratis yang telah mereka pratikkan, tingkat kesejahteraan mereka pun lebih baik dari pada orang-orang di dunia baru yang mereka anggap tidak demokratis.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Itulah temuan awal para bangsa Eropa. Tentu saja hal ini belum menjadi keinginan mereka untuk menyebarkan praktik demokratisasi sebab tujuan utama penemuan dunia baru adalah: (1) memenuhi hasrat penemuan hal (dunia) baru sekalian penyebaran agama; dan (2) Mencari peluang komoditi “perdagangan” dan eksplorasi kekayaan. Maka para militer yang dikirim pertama-tama kedunia baru. Meski tidak sedikit disertai para ilmuwan di berbagai bidang termasuk ilmuwan sosial, namun format misinya adalah “mengalahkan” bukannya “memberdayakan” dunia baru.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Berabad-abad ekplorasi dan penghisapan terhadap dunia baru itu berlangsung. Adu domba, konflik dan perang adalah strategi dalam rangka menguasai. Masyarakat di dunia baru tidak ada kesempatan mengakumulasi kehidupan budaya dan adat untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Bahkan <em>local wisdom</em> dan <em>local knowledge</em> yang potensial direintepretasi dan diintervensi oleh para penjajah melalui ahli-ahli sosial mereka. Begitu hebatnya metodelogi yang mereka miliki sampai-sampai para bangsawan dan masyarakat dunia baru tidak sedikit yang mengakui bahkan terpesona-mengagungkan “keunggulan” kebudayaan orang Eropa itu.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><strong>Prasyarat Demokrasi Bekerja</strong></span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Perang Dunia ke-II terjadi karena semakin banyak negara yang tumbuh merasa kuat, mencari ”dunia baru” untuk jajahan. Setidaknya ada dua asumsi mengapa perang antar bangsa ini terjadi: Pertama, demi mengukuhkan supremasi ke”bangsaan” dan kebudayaan; dan Kedua, mencari bahan baku dan tenaga kerja yang lebih murah untuk industri di negara mereka yang tengah berkembang, sekaligus membuka pasar baru di luar negara mereka.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Namun akibat dari Perang Dunia ke-II ini begitu fatal. Negara-negara kuat-pun merugi secara ekonomi karena uang dipakai untuk perang. Sementara negara-negara ”dunia baru” telah sama sekali lunglai terhisap dan tak mampu berbuat apa-apa lagi. Sementara itu dalam khasanah pemikiran ilmu-ilmu sosial semakin berkembang keinginan mengenai tata dunia baru yang lebih adil, bahwa kesejahteraan dan demokrasi itu untuk semua bangsa. Suatu negara tidak bisa sejahtera dan demokratis sendiri tanpa mengajarkan demokrasi dan mensejahterakan negara lain.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Maka kategorisasi dimulai sebagai awal menata pergaulan dan negosiasi antar negara. Wilayah-wilayah ”dunia baru” (sering disebut negara jajahan) dikategorikan sebagai negara ”dunia ketiga” dengan ciri: masih bodoh, kesejahteraan rendah, tata pemerintahan tidak setabil, dan belum demokratis. Kepada negara-negara dengan kategorisasi yang demikian proyek-proyek ”bantuan” dan ”pinjaman” diberikan dengan berbagai syarat. Bentuk ”penjajahan baru” kata banyak ahli, sudah dimulai tidak dalam bentuk perang melainkan dalam bentuk hegemoni ekonomi dan politik internasional. Dan akhirnya, dogma ”demokratisasi” menjadi salah satu persyaratan dalam paket-paket bantuan dan pinjaman. Ringkasnya begini: ”Kamu saya bantu dan pinjami dana, tapi kerjakan praktik-praktik demokrasi yang semacam ini!!”.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Negara-negara maju itu lupa bahwa mereka telah belajar demorasi puluhan abad. Sakit dan perihnya demokrasi sudah mereka pelajari dan lalui sehingga mampu mencari jalan-jalan baru menuju kesejahteraan seperti yang telah mereka capai saat ini. Lantas kini memaksakan negara-negara dunia ketiga ”belajar demokrasi” secara instan pun belum mencapai satu abad.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ada dua falsafah dasar agar kondisi demokrasi itu bisa bekerja: Pertama, seseorang paham betul akan artinya menghormati dan menghargai ”privasi” orang lain, entah karena perbedaan agama, ekonomi, perbedaan pendapat, beda afiliasi politik, beda etnis dan kebudayaan, beda pekerjaan, dan lain-lain. Lebih dari itu seseorang tersebut, paham betul bahwa dia bisa berurusan dengan hukum (yang akan merugikan dirinya sendiri) jika mengusik privasi orang lain tanpa alasan jelas. Kiranya disinilah inti makna ”kebebasan” individu. Kondisi ini bisa terjadi karena penegakan hukum telah mencapai supremasinya yang hampir sepurna, dan bahwa hal itu pun sudah dipraktikan beradab-abad di negara-negara maju tersebut.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Kedua, seseorang siapapun dia, sebagai rakyat, dia paham betul bahwa ”dia (rakyat)” merupakan institusi sosial tertinggi dan paling dihormati dalam penyelenggaraan pemerintahan. Seseorang ini paham betul akan haknya memperoleh informasi secara transparan dalam kebijakan pengelolaan pemerintahan, dan, seseorang ini paham betul bahwa dia harus menyalurkan pendapatnya melalui cara-cara yang benar tanpa merusak ”privasi” (perbedaan pendapat) dengan orang lain. Dan pembelajaran seperti ini sudah dilalui dari generasi ke generasi berabad-abad oleh seorang rakyat (individu) di negara maju tersebut.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Itu saja dua prasyarat dasar berjalannya kondisi demokrasi. Sebelum mencapai kondisi ideal mendekati dua prasyarat dasar ini, praktik demokrasi akan penuh warna pergolakan, pengkhianatan, ketidakadilan, dominasi etnis, ekpresi emosi rakyat yang tak terkendali, situasi-situasi tidak transparan dan jauh dari akuntabilitas, bad-governance, korupsi, keinginan ”pemisahan”, dan macam-macam lain. Apa situasi yang merugikan sebagai dampaknya? Jelas sudah: keamanan relatif tidak stabil, perekonomian tersendat penuh tantangan dan korupsi, masyarakat sulit bergerak mengakumulasi pengetahuan karena fasilitas publik rusak—dibangun lagi—rusak lagi, frustasi sosial, ketidak percayaan antar pihak baik di tingkat masyarakat maupun pemerintahan, dll.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><strong> ”Dogma” Instan Demokratisasi</strong></span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saya yakin betul bahwa negara-negara maju itu tahu apa akibatnya jika demokratisasi dipaksakan berjalan secara instan di negera-negara berkembang. Yakni: ada sebuah masa pembelajaran demokrasi berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin satu abad dimana dimulai dengan situasi ”tidak menentu”. Dan di situlah penjajahan baru dalam bentuk hegemoni terhadap berbagai aspek dan sektor bisa di mainkan. Lantas apa strategi iklannya: ”Lakukan demokratisasi, negaramu akan bisa menuju kesejahteraan”.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Batuan dan juga pinjaman dana program ekonomi kerakyatan telah dikucurkan, bantuan perdagangan di berikan, bantuan kesehatan untuk rakyat di salurkan, infrastruktur publik di bangun, bahkan batuan untuk melaksanakan praktik-praktik demokratisasi juga di kasih. Sudah banyak kajian dan buku-buku yang kita hasilkan tentang demokrasi, namun demokrasi tidak juga cepat merata dipahami oleh rakyat kita karena sangat minim para pejabat publik yang mampu memberikan contoh praktik demokratisasi yang sesungguhnya. Alhasil bukannya akumulasi semakin demokratis yang kita kerjakan, namun justru semakin pintar kita menciptakan strategi ”praktik-paktik manipulasi” atas nama demi demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas. Pembelajarannya dalam hal ini yakni: ”Dana uang yang melimpah tidak memberikan akumulasi signifikan bagi kesejahteraan karena dipraktikkan dalam situasi belum demokrasi”. Tapi di sisi lain kita sudah terlanjur meng-amini tesis dogma: ”Hanya dengan demokratisasi kita dapat menuju kesejahteraan yang adil”.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Mentalitas kita sebagai negara terjajah ternyata masih ada. Mentalitas dunia ketiga kita ternyata masih bekerja. Kita mereduksi kedua tesis antagonis di atas dengan istilah ”masa transisi”. Masa transisi adalah sebuah ukuran yang amat sulit ditengarai batas-batasnya karena ”waktu” terus bergulir dan fenomena sosial selalu mengiringinya. Karena kita masih dalam masa transisi demokratisasi, maka (untuk sementara) korupsi, ketidakadilan, dan praktik kesewenangan-wenangan&#8230;.yah&#8230;.tidak apa-apa.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Itulah jerat-jerat demokratisasi instan yang sedang dialami bangsa kita. Dan negara-negara maju yang telah belajar berdemokrasi berabad-abad itu tahu persis apa arti semua yang terjadi di dalam bangsa kita yang sedang merangkak menuju demokrasi. Sebagai penutup tulisan ringkas ini perlu kita tanyakan kembali: benarkah di dalam tradisi adat dan kebudayaan kita tidak mengenal makna penghormatan terhadap ”privasi” seseorang?!</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Jangan-jangan privasi itu memang tidak ada karena ideologi adat, kebudayaan, dan sosialitas masyarakat kita adalah ”komunalisme”. Ataukah jangan-jangan para ilmuwan sosial kita tidak tertarik, atau salah mempelajari dan mengintepretasi ulang adat dan kebudayaan kita agar selalu kontekstual dengan sejarah perkembangan bangsa ini. Jangan-jangan pula perspektif yang dimiliki ilmuwan sosial kita, secara tidak disadari, pun telah memakai perspektif demokratisasi ala Barat. Ataukah para ilmuwan sosial kita juga sedang mengalami ”masa transisi” epistemologi.</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Kemana lagi kita mau mencari dan belajar adakah ”budaya demokrasi” di dalam bangsa ini. Kepada legenda-legenda, manuskrip kuno, hikayat-hikayat, tradisi lisan adat-istiadat &#8230;atau kemana? Sepertinya tidak bisa tidak, apa yang telah diajarkan oleh tradisi Barat tentang demokrasi itu harus kita makan dan kita rasakan jatuh bangunnya kehidupan sosial dan politik bangsa ini&#8230;sampai dua filosofi dasar prasarat berjalannya demokrasi seperti dipaparkan di atas, dirasakan di setiap sanubari individu bangsa ini. [e.e]</span></h4>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Banda Aceh, Juni 2010.</span></h4>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/378/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=378&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/28/merangkak-demi-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cofee: The Context of Aceh Sociality</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/25/kopi-konteks-sosialitas-aceh/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/25/kopi-konteks-sosialitas-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 08:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>
		<category><![CDATA[liminalitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[KOPI: KONTEKS SOSIALITAS ACEH Apakah kopi di kedai-kedai kopi di wilayah Aceh Nangroe Darussalam sama saja? Kalau Anda minum kopi di kedai-kedai kopi di kota-kota pesisir seperti Banda Aceh, Biereun, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, dll maka rasa kopinya dikenal oleh khalayak umum sebagai cita rasa kopi Ule Kareng yang juga kesohor di sana. Namun kalau Anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=367&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KOPI: KONTEKS SOSIALITAS ACEH</p>
<p>Apakah kopi di kedai-kedai kopi di wilayah Aceh Nangroe Darussalam sama saja? Kalau Anda minum kopi di kedai-kedai kopi di kota-kota pesisir seperti Banda Aceh, Biereun, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, dll maka rasa kopinya dikenal oleh khalayak umum sebagai cita rasa kopi Ule Kareng yang juga kesohor di sana. Namun kalau Anda minum kopi dikedai-kedai di Bener Meriah, Takengon, dan Kutacane maka bukan cita rasa Ule Kareng yang Anda temui, tetapi cita rasa kopi Gayo yang hitam dan lebih keras. Di tiga kota tersebut terakhir cita rasa kopi Ule Kareng bisa juga Anda temui khususnya di kedai-kedai kopi yang dibuka oleh orang Aceh pesisiran.</p>
<p>Kopi dan kedai kopi di Aceh memang kontekstual. Tergantung dari wilayah dan kebudayaan mana cita rasa, mulut dan perut Anda dibentuk. Bagi mereka yang dibesarkan dalam kebudayaan Gayo maka rindu rasanya kalau seharian belum minum kopi Gayo. Begitu pula sebaliknya, yang dibesarkan dalam kebudayaan Aceh pesisiran rindu untuk minum kopi cita rasa Ule Kareng. Tetapi konon bahan dasar bjih kopi cita rasa Ule Kareng pun berasal dari kopi Gayo, hanya diproses dengan cara, tehnik, dan tambahan bumbu yang berbeda.</p>
<p>Marilah kita menelaah fenomena ngopi di warung-warung kopi di Aceh ini secara lebih luas. Hal ini menarik karena seiring berjalannya waktu, warung-warung kopi di Aceh muncul pesat bak cendawan di musim hujan. Benarkah ini hanya fenomena dagang semata seperti banyak diketahui bahwa masyarakat Aceh memiliki talenta berdagang yang hebat. Ataukah bisa kita runut fenomena warung kopi ini dalam kotek kebudayaan dan kesejarahan Aceh.</p>
<p><strong>Kedai Kopi, Cafe Kopi ”Plus”</strong></p>
<p>Kapankah tepatnya nongkrong di warung kopi, atau kalau di wilayah Eropa disebut ”cafe”, mulai merebak. Kopi dihadirkan pertama kali ke khalayak publik sebagai jasa warung kopi, atau disebut <em>kiva han</em> atau ada juga yang menyebut <em>qahveh khaneh </em>(artinya pencegah kantuk), adalah di Konstatinopel (Istambul) Turki pada tahun 1475<a href="#_ftn2">[2]</a>. Waktu itu hanya ada satu warung kopi. Tujuh puluh sembilan tahun kemudian, tepatnya tahun 1554 dua warung kopi dibuka lagi di Istambul. Di Turki kala itu warung kopi dikenal juga dengan sebutan ”<em>school of wise</em>”. Dengan datang ke warung dan minum kopi orang semakin pintar, karena di sana bisa mendengarkan musik, berbincang-bincang tentang berbagai, atau sekadar mendengar diskusi-diskusi yang berkembang.</p>
<p>Seiring semakin kuatnya kesultanan Ottoman di Turki melalui penahklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah mediteranian, maka dari Turki kopi merambah masuk ke kota Venice (Italia) sekitar tahun 1615 <a href="#_ftn3">[3]</a>. Namun menyebar issu bahwa minuman ini disebut ”minuman setan” sehingga  menumbuhkan kontroversi sampai-sampai membutuhkan keterlibatan Paus Clement ke-VIII untuk mencoba dan memberikan ijin bahwa kopi boleh diminum dan dijual di warung-warung kopi.</p>
<p>Masih di awal-awal abad XVI itu warung kopi pertama di buka di London. Pada awal abad XVII warung kopi yang kemudian sangat kesohor Edward Lloyd’s Coffee dibuka di kota yang sama. Dari Inggris kopi dibawa ke ”dunia Baru” (Amerika) pada abad XVI.  Kopi begitu pesat berkembang sehingga di London pada akhir abad ke-XVII tercatat sudah 300 warung kopi beroperasi. Dari Inggris kopi masuk ke Belanda, dan cafe kopi persia dibuka pertama kali di negara initahun 1713. Belanda kemudian menyebarkan kopi ke India dan Indonesia sekitar pertengahan abad XVII. Begitulah sekilas perkembangan minum kopi di warung kopi, yang disinyalir sebagai ”<em>the most consumed baverage in the planet</em>”.</p>
<p>Menurut penelaahan banyak kawan perkembangan binis kopi di Aceh sangat signifikan pasca Tsunami dan MoU Helsinki. Dunia dan atmosfir nongkrong minum kopi telah berkembang bermacam-macam, mulai dari yang bernuansa tradisional-konvensional sampai ke nuansa modern-metropolis, lengkap dengan berbagai fasilitas serta asesoris pelengkap promosi. Ada Kedai Kopi, ada Cafe Kopi, dua nama yang sebetulnya maknanya sama saja sebagaimana ”warung kopi”. Jaman dahulu bayangan mengenai ”kedai” atau ”warung” kopi adalah tempat minum kopi dengan perabot bermeja papan, kursi kayu, rumah warung dari papan, tanpa AC atau kipas angin. Inilah gambaran konvensional-tradisional. Sekarang ”kedai” atau ”warung” kopi mengambil tempat dan design ruang yang lebih mewah persis seperti kita lihat ”cafe-cafe” di film-film luar negeri, bahkan dilengkapi dengan akses internet.</p>
<p>Itulah letak ”plus”-nya, bahwa kedai kopi di Aceh (khususnya di kota Banda Aceh) dewasa ini dikelola dengan desain yang modern, setting ruang yang enak dan mewah, meubelair yang menunjukkan wajah ”wah”, dengan setting lampu yang romantis, dilengkapi dengan akses internet, dan di beberapa kedai atau cafe pelayannya adalah perempuan-perempuan muda.</p>
<p>Di kedai-kedai kopi ”pinggiran”, maksudnya yaitu kedai kopi yang letakknya di perkampungan, para pelanggan memang didominasi kaum laki-laki. Namun kondisi ini sudah jauh berbeda dengan kedai atau face kopi yang ada di kota. Pelanggannya sudah hampir sebanding antara laki-laki dan perempuan.  Para tamu ini datang dari bermacam kalangan entah anak SMA, mahasiswa, para pegawai negeri maupun swata, para pebisnis, para pengangguran, seniman, aktivis LSM, dan berbagai macam lainnya. Nampanya topik-topik yang dibicarakanpun bermacam rupa entah cuma berkelakar biasa, tapi ada pula yang membicarakan perkembangan politik lokal dan nasional, bisnis, diskui kemahasiswaan, atau sekedar menggosip, dan tentu saja ada pula yang berkencan.</p>
<p>Warung kopi, dimana sekarang sering memakai istilah cafe, bukanlah sekedar institusi sosial yang terkait dengan pedagangan dan jasa saja. Warung kopi cenderung menjelma menjadi institusi sosial yang menjadi arena dimana hampir tidak ada sekat-sekat batas sosial. Jika Anda hendak bernegosiasi ”pekerjaan” dengan para fungsionaris birokrat, akan sangat berbeda nuansanya jika dimulai di cafe kopi. Jika mitra bisnis yang sedang Anda dekati dibawa terlebih dahulu ke cafe-cafe kopi, mungkin naunsa-nuansa negosiasi berikutnya akan menjadi lebih mulus.</p>
<p>Antara pukul 17:00 sampai sebelum mahrib sudah merupakan pemandangan yang biasa di cafe-cafe kopi cukup padat dengan anak-anak muda masih berpakaian rapi ala kantor, bercanda melepas ketegangan pekerjaan dengan rekan-rekan mereka.  Saat mahrib cafe-cafe ini sepi karena ditutup sementara, dan setelah mahrib kembali ramai. Kondisi ini mungkin mirip dengan para eksekutif muda di Jakarta yang setelah jam-jam kantor selesai mereka datang ke cafe-cafe, karaoke, atau diskotik untuk melepas lelah dan ketegangan pekerjaan kantor.</p>
<p>Kedai dan cafe kopi (khususnya di kota besar Banda Aceh)  telah menjadi arena ”non-formal”, sekat-sekat struktur sosial yang membelenggu hilang sementara meski masih dalam batas koridor kesopanan. Orang khususnya kaum muda, ingin mencari arena yang lebih ”longgar” dimana untuk sementara terhindar dari beban-beban ekonomi, struktur-sosial, himpitan kekuasaan, atau mungkin (bercampur) bayangan tekanan psikologis masa lalu oleh karena konflik panjang.</p>
<p>Pertanyaan yang menarik diajukan, ”ngopi” merupakan koteks kekinian masyarakat Aceh, atau ngopi sudah merupakan ”oase” kehidupan dalam historisitas masyarakat Aceh. Jika memang ya, sejak kapan keudai kopi dan ngopi ini kira-kira telah mewarnai fenomena perkembangan masyarakat Aceh.</p>
<p><strong>Kopi dan Historisitas Aceh: (Sekedar reintepretasi historis)</strong></p>
<p>Sekarang mari kita pertanyakan lebih dalam, apakah kedai-kedai kopi di Aceh dalam lintasan sejarah Aceh menyumbangkan alternatif-alternatif kritis untuk tatanan “dunia baru”?  Ambil misalnya saja, apakah kedai-kedai kopi di era kolonial dulu punya peran sebagai arena kritalisasi gagasan-gagasan kepahlawanan dan praktik-praktik strategi perlawanan demi bangsa yang berdaulat dan terhormat? Entahlah, secara historiografi mungkin tidak ada catatan-catatan sejarah tentang hal itu, dan penulis juga belum pernah menemukan artikel yang mengintepretasi mengenai hal tersebut.</p>
<p>Namun mungkin bisa dilakukan rekonstruksi antara sejarah perkembangan persebaran kopi, sejarah masuknya pengaruh-pengaruh Islam (terutama Turki dan Arab) dan di sisi lain sejarah kepahlawanan pejuang-pejuang Aceh. Dari rekonstruksi itu mungkin barang sedikit kita bisa meintepretasi apakah kehidupan “warung kopi” telah mewarnai “Aceh tempo doeloe”.</p>
<p>Mitos awal mengenai kopi ada di daerah Etiopia dengan legenda pengembala kambing bernama Kaldi pada awal abad 8<a href="#_ftn4">[4]</a>. Dari sini kemudian kopi menyebar ke Mesir, Yaman, dan Arab. Namun bangsa Arab-lah yang berhasil mengembangbiakkan tanaman kopi ini, bahkan memproduksi dan memperdagangkannya di sekitar abad 11<a href="#_ftn5">[5]</a>. Di negara-negara jazirah Arab kopi yang biasa disebut <em>qahweh</em> ini menjadi sangat populer, namun secara formal kopi menjadi jasa perdagangan dalam bentuk ”kedai kopi” terjadi tahun 1475 (tulisan lain menyebutkan abad 16) di Konstantinopel (Istanbul-Turki) dikenal dengan istilah Kiv Han (artikel lain menyebutkan <em>kahve</em>) pada era kejayaan Khalifah Turki Usmani. Dari negeri para khalifah ini kopi kemudian menyebar ke Italian, Inggris, dan Belanda antara abad 16 sampai 17.  Namun ngopi di ”warung kopi” waktu itu masih menjadi dominasi kaum elite karena harganya yang selangit.</p>
<p>Belanda akhirnya mendapat bibit-bibit biji kopi tersebut pada sekitar abad 17, dalam upayanya untuk memotong mata rantai monopoli pedagangan kopi oleh bangsa Arab. Pada tahun 1610, Belanda mencoba mengembanbiakkan tanaman kopi ini di India namun kurang begitu berhasil.  Pada tahun 1699 Belanda mencoba kembali mengembangbiakkan tanaman kopi di perkebunan kopi di Srilanka dan tanah Jawa (Indonesia) pada tahun 1699<a href="#_ftn6">[6]</a>.  Akhir melalui institusi dagang VOC, Belanda berhasil mengeksport kopi tahun 1711 . Indonesia adalah tempat perkebunan pertama diluar Arabia dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780. VOC kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra, Bali, Sulawesi dan Timor. Tanaman kopi tersebut akhirnya masuk ke dataran tinggi Gayo (Aceh) sekitar tahun 1924<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Menilik perkembangan sejarah tanaman kopi, maka dia baru masuk ke Indonesia pada sekitar abad 17, bahkan penanamannya secara perkebunan baru masuk ke Aceh (Takengon) sekitar tahun 1924. Dalam sudut pandang sejarah yang lain, yaitu sejarah Islam masuk ke Aceh, maka kemungkinan sejarah orang Melayu (termasuk Aceh) minum kopi bisa menunjukkan cerita yang berbeda.</p>
<p>Hubungan komunitas-komunitas masyarakat di Aceh dengan orang-orang Islam, secara lebih konstruktif dan terorganisir dalam bentuk perdagangan, perkawinan silang maupun kerja sama resmi dua institusi kesultanan, dimulai sejak kesultanan Islam Perlak pada sekitar abad VIII. Kemudian juga dengan kesultanan Samudra Pasai sekitar abad X, dan dilanjutkan dengan hubungan yang lebih kuat melalui kesultnan Aceh Darussalam yang dimulai pada abad XII.</p>
<p>Pada masa kejayaan kesultanan di Aceh itu, terjalin hubungan yang paling kuat dengan Turki yakni pada tahun 1567 dalam bentuk pengiriman armada-armada Angkatan Laut ke Aceh di bawah perintah keluarga kesultatan terkuat saat itu yaitu keluarga Usmaniah yang bernama Sultan Selim II. Bantuan ini bertujuan memperkuat armada laut Aceh dalam memerangi Portugis, dan juga membangun semacam ”akademi angkatan laut” yang kuat di Aceh<a href="#_ftn8">[8]</a>. Dikisahkan utusan itu terdiri atas beberapa armada angkatan laut, ulama, ahli kapal, ahli altileri, beserta tukang-tukang. Oleh Sultan Selim mereka diminta tinggal di Aceh selama sultan Aceh masih membutuhkannya. Dikisahkan bahwa akhirnya para utusan tersebut banyak yang kawin dengan penduduk setempat.</p>
<p>Relasi yang kuat ini terjadi sekitar satu abad setelah budaya ngopi <em>kahve</em> sudah sangat membudaya di Turki (Tahun 1475-an),  dimana kopi juga sudah mulai diperdagangkan oleh bangsa Turki ke Italia, Jerman, Perancis, Inggris, dan Belanda. Sementara tanaman kopi baru masuk Indonesia sekitar 1725 oleh Belanda. Relasi orang-orang Aceh yang cukup intens dengan pedagang-pedagang, para ulama, maupun para spesilist (ahli) dari Arab dan Turki tersebut, bukan tidak mungkin telah memperkenal orang-orang Aceh dengan minuman yang disebut ”kopi”.</p>
<p>Ada beberapa intepretasi ”ngopi” yang terjadi pada masa kesultanan Aceh tersebut. Pertama, kopi masih di minum dalam kalangan elite-elite kesultanan dan bara bangsawan sebagagai jamuan minum bersama. Sebabnya yaitu bahwa kopi belum menjadi barang perdagangan umum, kopi diperoleh sebagai ”cinderamata” mata saja dari para utusan dari dunia Arab dan Turki. Intepretasi Kedua,  kalaupun sudah dipasarkan di Aceh<a href="#_ftn9">[9]</a>, kuantitasnya masih sangat langka atau harganya sangat mahal, sehingga saudagar kaya, para penyair-pujangga, para bangsawan atau sanak saudara kesultanan saja yang mampu nongkrong di ”keudai kopi”. Intepretasi kedua ini pun cukup logis, sebab para pedagang luar dari Arab dan Turki tentu saja bukan pedagang biasa tetapi setingkat saudagar. Merekapun kiranya ingin memasarkan atau membuat keudai kopi, seperti yang telah terjadi di negara-negara eropa.</p>
<p>Bagaimana dengan lintas sejarah para sastrawan-budayawan dan pahlawan?  Hamzah Fansuri, seorang ulama sulu, pujangga dn penyait, namun juga bisa disebut pengelana hidup antara sekitar abad 16, seangkatan dengan Syekh Syamsuddin bin Abdullah Al Sumatrani, Syekh Ibrahim Al Syami dan Syekh Nurruddin Al Raniri dari Gujarat. Tiga ulama terakhir telah lebih dulu menjadi ulama sekaligus pujangga kesultanan, baru kemudian Hamzah Fansuri menyusul. Cik Di Tiro  hidup tahun 1836-1891, Teuku Umar  hidup pada 1854 – 1899, Cut Nyak Dien antara 1850-1908, Cut Meutia 1870-1910, dll. Jika pada masa kedekatan sultan-sultan di Aceh dengan orang-orang Turki yaitu sekitar abad 15, dimana kemungkinan besar ”ngopi” bersama sudah ada meski di kalangan terbatas, maka penulis kira hal yang sama sudah ada pulan pada masa para pujangga-ulama, penyair dan pengelana, dan kemudian diikuti masa hidup para ”pahlawan”.</p>
<p>Jadi ”ngopi” (bersama) sejak zaman kesultanan (besar) Aceh penulis kira sudah menjadi arena ”dialog”, dimana orang saling membagi energi penyegaran dan pembaharuan pemikiran<a href="#_ftn10">[10]</a>. Bukan tidak mungkin keunggulan-keunggulan Aceh sejak zaman itu, disumbangkan oleh peran ”tempat ngopi”. Strategi ketatanageraan yang hebat zaman Iskandar Muda, qanun-qanun yang sahih, syair-syair pujangga ternama, strategi-strategi perang samudera, majunya mazhab-mazgab pemikiran Islam, dll kiranya satu dan lain hal ditopang oleh ”hidupnya” perbincangan di arena-arena ngopi.</p>
<p>Peran ”ngopi” dalam perkembangan sejarah masyarakat Aceh ini tentu saja terus berlanjut sampai pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dan masa konflik panjang antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Pusat (Indonesia). Pada era-era tersebut pasti warung kopi di Aceh kuantitasnya sudah jauh lebih banyak dibanding masa kesultanan dan penjajahan. Kopi sudah merakyat dimana-mana sebagai komoditi merakyat (publik). Dan tentu saja, peran warung kopi sebagai arena ”ngopi” bersama, pada intinya mirip dengan jaman-jaman sebelumnya, bahwa dia menjadi arena mencari ”energi baru”: menganalisi kondisi kekinian—memperbincangan secara kritis, setara dan lintas individu—format ulang gagasan-gagasan baru.</p>
<p><strong>”Ngopi”: Liminalitas Kehidupan</strong></p>
<p>Ada semacam pameo bahwa Kota Banda Aceh (mungkin) merupakan kota dengan kedai kopi terbanyak di dunia. Kedai kopi di Aceh khususnya di Kota Banda Aceh telah berkembang sangat pesat dengan berbagai ragam gaya dan fasilitas.  Kebiasaan ”ngopi” di masyarakat Aceh memang luar biasa.  Sampai-sampai beberapa pemerintah kabupaten/kota sempat khawatir mengenai kedisiplinan pegawainya oleh karena budaya duduk di warung kopi. Sesungguhnya ”ngopi” ini sekedar ingin jajan saja, sekedar tradisi saja yang telah jadi kebiasaan turun temurun, ataukah dalam sudut yang lain ”ngopi” memiliki makna tersembunyi (unconciusness) dalam kehidupan.</p>
<p>Kalau orang hanya sekedar ingin minum kopi tentu saja bisa dilakukan di rumah, lebih murah, dan bubuk-bubuk kopi enak bisa dibeli di warung, kios, atau supermarket terdekat. Jelaslah alasan sekedar ingin kopi ini tidaklah benar. ”Ngopi” di cafe adalah arena yang dicari serta diinginkan. Warung kopi bukan saja arena pemilik warung untuk berperan ekonomi. Lebih dari itu warung kopi telah menjadi arena yang dicari dan diinginkan para konsumennya. Ngopi telah menjadi simbol kebutuhan komunitas-komunitas di Aceh.</p>
<p>Warung kopi dan ngopi bersama bukanlah wilayah ”formal”. Dia merupakan ruang ”informal” dimana batas-batas strukturasi vertikal maupun horisontal telah menjadi ”abu-abu” meski masih dalam batas norma kesopanan.  Di dalam arena ”ngopi” sudah tidak amat penting lagi atasan dan bawahan, kaya maupun miskin, bekerja maupun pengangguran, priyayi maupun rakyat biasa, bangsawan atau bukan, ulama bisa berkelakar dengan umat, tengku bisa berdebat dengan orang awam, perempuan bisa duduk bersama laki-laki, dll.</p>
<p>Menurut pandangan penulis di dalam diri orang Aceh mengalir darah dari India dan Arab, dimana orang-orang ini sering disebut sebagai ”macan mimbar” alias suka berbicara (bukan dalam pengertian negatif). Di luar sana dalam ”ritual” kehidupan nyata sesorang terbelenggu oleh batasan-batasan sosiologis dan kultural, sehingga tidak bisa sembarangan berbicara semaunya dalam hubungan yang sepadan. Maka di warung kopi ekspresi keinginan bicara bisa ditumpahkan tanpa terlalu direpotkan dengan sekat-sekat dan struktur yang membelenggu.</p>
<p>Itu salah satu alasan. Alasan berikutnya adalah bahwa kehidupan ini penuh dengan ”ritus”, yang didalamnya sarat dengan aturan dan norma yang membatasi, penuh dengan sekat struktur sosial dan budaya. Hampir tidak ada atau sangat sedikit ”kebebasan” di sana. Semunya itu menumbuhkan kejenuhan, keputusasaan, sinisme, tekanan-tekanan psikologis, energi amarah dan konflik invidual maupun kelompok. Begitulah gambaran para ahli sosilologi dan antroplogi mengenai ritus dan kehidupan, yang salah satunya diwakili oleh pemikiran Van Gennep dan Victor Turner<a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Dalam setiap komunitas kebudayaan, menurut para ahli tadi, pasti ada sebuah ”ruang” sebagai mekanisme untuk melepaskan diri dari ritual yang membelenggu tersebut, sejenak lepas dari struktur. Itulah ”liminalitas”, atau oleh Victor Turner sering disebut juga ”kondisi anti-struktur”.  Bentuk dan media  situasi anti-struktur tersebut bisa berbeda-beda di setiap masyarakat sesuai perkembangan ruang dan waktu. Saya kira kegiatan ”ngopi” di warung-warung kopi di Aceh merupakan representasi salah satu arena liminal masyarakat Aceh.</p>
<p>Apakah sitauai liminal tersebut merupakan sesuatu yang ”negatif”? Kalau dijawab dengan pemikiran sempit ”kaca mata kuda”, maka jawabannya cenderung negatif. Misalnya saja, budaya ngopi dianggap mengganggu kinerja pegawai. Padahal mengukur kinerja pegawai tidak hanya dari apakah seorang pegawai membolos atau terlambat demi duduk di warung kopi. Ada pula disinyalir bahwa banyak ibu-ibu yang menjadi kesal karena lelakinya sering menghabiskan waktu di warung kopi dari pada di rumah membantu pekerjaan rumah tangga. Jika dicari-cari mungkin masih banyak daftar yang masih bisa ditulis. Namun bukan di situ letak problematikanya.</p>
<p>Liminalitas warung kopi di Aceh harus dilihat dalam konteks yang lebih luas masyarakat Aceh sebagai kesatuan ritus kehidupan sosio-kultural.  Bayangkan saja jika dikeluarkan Qanun tidak boleh ada warung kopi di Aceh, apa jadinya?! Fungsi-fungsi sosialitas di Aceh mungkin justru menjadi kacau sebab warung kopi dan ngopi sudah menjadi bagian dari kultur Aceh. Persis seperti diungkapkan Victor Turner: ”<em>So where does that leave liminality? Exactly where it started: betwixt and between. It is not outside of the social structure or on its edges, it is in the cracks within the social structure itself</em>”.</p>
<p>Ritus “ngopi” di warung kopi di masyarakat Aceh dari sudut teori liminalitas kebudayaan, justru merupakan arena untuk memaknai kembali atau memberikan energi produktif kepada bangunan tata sosial masyarakat Aceh.  Ada lima fenomena yang bisa dipelajari dari situasi liminalitas tersebut<a href="#_ftn12">[12]</a>, namun di sini penulis ambil dua tema saja yang sekiranya bisa dipakai untuk “pisau analisa” situasi liminal ngopi di Aceh.</p>
<p>Pertama, kondisi liminalitas bisa dikatakan sebagai ritus pembebasan yang dimulai dari pra-liminal, tahan liminal, dam post-liminal. Pra-liminal adalah situasi di bawah tekanan tatanan dan struktur sosial dalam kehidupan keseharian. Kemudian memasuki arena (kondisi) liminal dimana di kasus kita ini adalah arena warung kopi (ngopi), dimana format-format tatanan dan struktur sosial dilepaskan sehingga setiap individu menjadi “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan individu (kelompok) lainnya. Victor Turner menggambarkan sebagai berikut: <em>“… isolation from the previous or fixed social structure; “liminal”, which denotes transition period; …</em><em> the individual is no more under the influence of the effects of “preceding” and “future” statuses and finds himself in an undefined position”.</em></p>
<p>Selama “ngopi” bersama di warung kopi, selain menanggalkan tekanan-tekanan sosio-kultural, sesungguhnya sekaligus sedang terjadi negosiasi relasi-relasi terhadap bentuk-bentuk hubungan sosial baru (<em>new alternative social structure</em>). Hubungan-hubungan inkorporasi ini tidak saja dalam level individual namun bermakna pula dalam level hubungan-hubungan lebih luas di tingkat komunitas (masyarakat). Itulah tahap post-liminal dimana para “warga” warung kopi yang sedang saling mereposisikan diri tersebut mengharapkan terjadinya relasi-relasi kultural baru, dimana Turner mengatakannya dengan <em>: “…</em><em>awaiting for the realization of reconstructed and renewed cultural models and paradigms”.</em> Jadi ringkasnya, ngopi di warung kopi sudah menjadi semacam seremoni sosial di Aceh untuk mereposisikan-membaharukan bentuk-bentuk baru relasi sosial yang diharapkan.</p>
<p>Tema kedua, menggambarkan bahwa liminalitas berperan untuk memungkinkan tumbuhnya alternatif-alternatif baru, kreasi positif, bahkan oposisi-kritis terhadap kondisi, aturan dan tatanan sosial yang ada. Relasi-relasi pemikiran, ruang-ruang bicara di warung-warung kopi di Aceh, saya kira kita semua setuju justru lebih kritis barangkali di banding di forum-forum seminar, di ruang kelas, di rapat-rapat para dewan, dll. Sebab orang bicara persis pada apa yang disebut “obyektif” dengan hampir tidak ada rasa takut lagi dirinya siapa. Relasi dan negosiasi-negosiasi “obyektif” yang ada menumbuhkan sintesa alternatif dalam berbagai bidang, yang jika ditransformasikan ulang berintikan pada harapan “tata kehidupan baru” (<em>new order</em>) baik dalam berinteraksi sosial, aturan-aturan baru, kondisi sosial yang lebih baik dan adil, sampai tata kehidupan bernegara yang setara.</p>
<p><strong>Belajar ke Depan Dari ”Liminalitas”</strong></p>
<p>Pembacaan penulis terhadap artikel-artikel di dunia maya dan media cetak tentang Aceh menunjukkan adanya kecenderungan skeptisisme. Pertama, skeptisisme yang mengungkap bahwa norma-norma agama yang Islami tergerus dengan begitu derasnya oleh fenomena hedonisme modernitas. Pergaulan anak muda semakin longgar, pakaian ketat dimana-mana, kecenderungan mencari ”hiburan” keluar daerah, kasus-kasus khalwat terus saja terjadi, dll. Jika hal itu terus terjadi tidak terbendung, akan hancurlah Aceh kira-kira begitu intinya.</p>
<p>Kedua, skeptisisme yang ingin mengatakan bahwa sudah ”hacur harga diri Aceh” karena semakin berkurangnya orang-orang yang meneladani nilai-nilai kepahlawanan Aceh tempo dulu, semakin buruk Acek kini dibanding masa kesultanan-kesultanan Aceh yang berjaya, baik dalam tatanan aturan sosial dan ketatanegaraan, kemakmuran, bahkan Aceh menjadi pusat-pusat pemikiran Islam di Asia Tenggara, dll. Tesis lebih lanjut adalah, lantara tidak ada harga diri lagi itu maka Aceh kini terpuruk dalam kemiskinan (ketidakmakmuran), SDM yang minimal, dll. Begitulah kira-kira logika skeptisisme dalam tema ini.</p>
<p>Dalam benak penulis ”skeptisisme” –yang berlebihan&#8211; ini agak mengganjal karena tidak sebangun dengan pembacaan yang panjang historisitas masyarakat Aceh, yang bagi penulis, berlandaskan pada ”adaptif-kritis-progresif”. Jangan-jangan sesuatu hal besar mendasar sedang terjadi di dalam masyarakat Aceh –ini sekadar dugaan kritis penulis—dimana konsolidasi sosio-kultural masyarakat Aceh telah menganga ”retak” satu sama lain. Jangan-jangan pula ada ”energi” praksis sosial-kebudayaan yang sedang berbenturan saling ingin mendominasi. Keretakan ini, yang dalam banyak perbincangan sosiologis sering disebut ”transisi”, jangan serta merta kemudian dinilai buruk negatif, apalagi berpandangan: ”matilah kebudayaan kita sekarang ini”.</p>
<p>Setiap sejarah, zaman, era, selalu memiliki kontekstualisasinya masing-masing. Yang hanya bisa diteladani dari era sebelumnya, menurut penulis, adalah nilai dan prinsip-prinsinya bukan praktik praksisnya. Skeptisisme tergambar di atas mengemuka karena kebimbangan kemana mau mencari ”rujukan” yang kontekstual di dalam nafas sosio-budaya Aceh sendiri. Dalam hal ini penulis ingin menyubang secuil saja pemikiran, mengapa kita tidak ”belajar” dari fenomena ngopi di warung kopi, yang dalam pemaparan sebelumnya telah setidaknya berperan sebagai ”arena oase” energi-energi pemikiran baru.</p>
<p>Studi etnografi-partisipatif yang komprehensi mendalam kiranya perlu dilakukan terhadap liminalitas ”ngopi” di warung-warung kopi, untuk menganalisis ide-ide nilai alternatif sosio-kultural ke depan. Pada ritual nyata kehidupan sehari-hari Aceh kini adalah Aceh kosmopolitan era millenium, bukan Aceh satu atau dua abad lalu. Studi ini harus dimulai dengan ”kanvas putih kosong” supaya terbuka luas atas fenomena liminalitas yang ada, dan menghindari kecenderungan hipotesis-hipotesis awal yang dogmatis apalagi dominasi  pemikiran.</p>
<p>Transformasi nilai-nilai ke-Aceh-an yang kontekstual penulis yakin pasti bisa dilakukan, bersumber dari liminalitas ”ngopi” warung kopi, kemudian digodok dengan pemikiran-pemikiran terbuka non-dominasi. Sepatutnya kita belajar dari Jepang dalam belajar tentang ”transformasi nilai” ini. Sebagai secuil contoh saja: Jepang adalah negara dengan ”seribu gempa” <a href="#_ftn13">[13]</a>. Mereka sebetulnya memiliki rumah tradisionil yang tahan gempa peninggalaan pemikiran besar nenek moyangnya beradab-abad. Tapi yang tengah diujicobakaan dan sebagian sudah diterapkan, bukan membangun rumah tradisional ditambah pondasi pencakar bumi yang kian kuat, atau bukan pula terus membangun gedung-gedung modern dengan pondasi cakar bumi yang menghuja ke tanah semakin kuat. Nilai yang diambil dari tradisi rumah tradisional Jepang yaitu ”fleksibilitas” terhadap gempa (gerakan bumi). Kini jepang sudah membangun dan terus menerus melakukan pembelajaran terhadap ”pondasi rumah yang fleksibel” terhadap gerakan bumi akibat gempa, fleksibel secara horisontal maupun fertikal.</p>
<p>Masyarakat Jepang sesungguhnya memiliki tiga pilihan model berpikir. Pertama, model berpikir konvensional masa lalu kembali mengintrodusir model rumah tradisional dengan berbagai modifikasinya. Model berpkir kedua, terus saja membangun gedung-gedung modern dengan mengeksplorasi tehnik memperkuat cakar-cakar pondasi. Ketiga, yakni model berpikir alternatif dengan tetap membuat gedung modern namun mengeksplorasi untuk menemukan pondasi gedung yang ”fleksibel” (nilai prinsip rumah tradisional) terhadap seismic.</p>
<p>Sebagai arena ”transisional”, ruang berpikir alternatif, serta media liminalitas multi pemikiran, ngopi di warung kopi tersebut akan mampu memberikan format baru sosio-kultural Aceh yang kontekstual dengan kekinian dan masa depan. So&#8230;mengapa kita tidak belajar dari sana secara konstruktif?!</p>
<p>[Tulisan ini merupakan salah satu sub-bab dalam draf buku saya berjudul "Dari Bintang Sampai Lhoknga: "Sebuah Catatan Perjalanan di Aceh"]</p>
<hr size="1" />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a>Citra rasa kopi masyarakat Gayo ini, menurut para ahli kopi, nikmatnya mencapai tiga tingkatan. Ketika di dalam mulut dan kemudian mengalir ke dalam kerongkongan, kopi ini menyentuk kenikmatan khas indera-indera pengecap. Ketika sudah ditelan dan masuk di dalam perut, ia tidak menumbuhkan kejenuhan atau sakit perut namun justru yang muncul adalah kelegaan. Setelahnya, sementara masih terasa lega di dalam perut kenikmatan yang ada di dalam mulut dan kerongkongan aroma khas kopi tersebut masih dapat dirasakan bersama-sama. Bagi para pecandu kopi, mungkin, saat itulah saat yang tepat untuk memulai sharing, berdiskusi, atau sekedar memulai obrolan dengan kawan berangkat dari obrolan yang enteng-enteng saja sampai soal politik mungkin juga filsafat.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat artikel ”Coffee, The Drink of Choice” oleh Hilda Maria Sigurdardotir (http://ezinearticles.com)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat http://www.ncausa.org</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat artikel Azma Putra dalam <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://id.ecehinstitute/">http://id.ecehinstitute</a></span>.org, 12 Mei 2009; dan artikel Radinan Maruddany dalam <a href="http://www.acehblog.com/">http://www.acehblog.com</a>, 12 April 2010. Di kisahkan si Kildi suatu ketika menemukan kambing-kambingnya dalam keadaan sehat bugar dan lebih lincah setelah memakan suatu biji-bijia. Sang pemuda membawa pulang biji-bijian tersebut, merebus dan meminumnya. Sejak itu biji-bijian yang disebut kopi menjadi minuman tradisional di masyarakat Etiopia.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat artikel Hilda Maria Siguldardottir dalam ”Coffee The Drink of Choice” (http://www.ezienearticle.com)</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat artikel Radinan Maruddany dalam <a href="http://www.acehblog.com/">http://www.acehblog.com</a>, 12 April 2010</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihar artikel Sejarah Kopi di Indonesia (dalam http://www.kampoengcoffee.com)</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ”Malahayati Srikandi Dari Aceh”, oleh Solichin Salam; Jakarta 1995, Gema Salam.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Mungkin ini merupakan keterbatasan penulis dalam mengumpulkan fakta dan artikel sejarah, dimana dari sekian banyak artikel sejarah yang terkait dengan komoditi-komoditi perdagangan belum tercatat nama ”kopi”. Yang dicari para pedagang luar itu antara lain emas, kapur barus, dan rempah-rempah, dan tidak ada catatan komoditi apa yang didagangkan kepada penduduk lokal. Namun perlu diingat bahwa banyak penulis yang menyoroti sejarah masa lalu menulis bahwa Kutaraja (Banda Aceh) waktu adalah kota yang kosmopolitan. Di kota ini merupakan perjumpaan berbagai orang dan bangsa mulai dari Arab, Turki, Yaman, India, Malaysia, Eropa, Thailand, Khemer, Cina, Jawa, dll dengan berbagai profesi dan kepentingan seperti para ulama, penyair-pujangga, para pengelana, pedagang besar antar negara (saudagar), bangsawan-bangsawan kesultanan, atau mungkin juga para bala-tentara, dll.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Banyak artikel yang mengupas mengenai budaya ”ngopi” di Aceh menyebutkan bahwa ngopi ”sudah membudaya sejak lama di Aceh”. Namun dari berbagai artikel-artikel tersebut kurang jelas dapat dirunut ”sudah lama membudaya” tersebut kira-kira kapan periodesasinya. Lebih dari tidak ada gambaran bagaimana ”ngopi” tersebut berperan dalam konteks masyarakat dari waktu ke waktu.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat tulisan Irma Ratiani dalam “Theory of Liminality” (<a href="http://www.litinfo.ge/issue-1/ratianiirma.htm">http://www.litinfo.ge/issue-1/ratianiirma.htm</a>); volume 1, 2007; lihat juga artikel “What About Liminality” (dalam <a href="http://www.liminality.org/about/whatisliminality">http://www.liminality.org/about/whatisliminality</a>); Artikel Mathieu Deflem dalam “Ritual, Anti-Structure, and Religion:<br />
A Discussion of Victor Turner&#8217;s Processual Symbolic Analysis”, Journal for the Scientific Study of Religion 30(1):1-25, 1991 (dalam <a href="http://www.cas.sc.edu/socy/faculty/deflem/zturn.htm">http://www.cas.sc.edu/socy/faculty/deflem/zturn.htm</a>); dan Artikel Lauro Zavala tentang “Towards a Dialogical Theory of  Cultural Liminality, Arizona Journal of Hispanic Cultural Studies, Volume 1, 1997.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat tulisan Irma Ratiani dalam “Theory of Liminality” (<a href="http://www.litinfo.ge/issue-1/ratianiirma.htm">http://www.litinfo.ge/issue-1/ratianiirma.htm</a>); volume 1, 2007.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat artikel Nabuo Ito “A Historical Review of the Techniques in Japanese Buildings for Resisting Various Loads, Focusing on Seismic Attacks”; XVI International Symposium – Florence, Venice and Vicenza 11th -16th November 2007 (dalam <a href="http://www.icomos.org/iiwc/16/ito.pdf">http://www.icomos.org/iiwc/16/ito.pdf</a>); lihat juga artikel Cledy E Witt: It Can’t Happen here: “Seismic Isolation System Patented in Japan Has Applicability in Earthquake Prone US-Location” dalam http://www.prologis.com/docs/1934E_MHM_PRLO+eprint.pdf</p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/articles-15/'>ARTICLES (15):</a> Tagged: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/tag/liminalitas/'>liminalitas</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/367/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=367&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/06/25/kopi-konteks-sosialitas-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MY LIFE POEMS</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/02/25/my-life-poems/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/02/25/my-life-poems/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 10:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY POEMS:]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[EMBUN DAN BAU BUNGA KOPI Oleh: Emil E. Sotja Untung tidak Bang punya kebun kopi? &#8211;Jangan tanya aku!! Tanya tu toke-toke!! Lantas, mengapa Abang pliara terus kopi-kopi tua itu. &#8211;Terlanjur disebut ”petani kopi”. Itu masalahnya!! Bau bunga kopi pagi hari Menjalar diseluruh lereng pegungan Gayo Tapi aroma keuntungan, Tidak selalu pasti hinggap di setiap petani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=349&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EMBUN DAN BAU BUNGA KOPI</strong><br />
Oleh: Emil E. Sotja</p>
<p>Untung tidak Bang punya kebun kopi?<br />
&#8211;Jangan tanya aku!! Tanya tu toke-toke!!<br />
Lantas, mengapa Abang pliara terus kopi-kopi tua itu.<br />
&#8211;Terlanjur disebut ”petani kopi”. Itu masalahnya!!</p>
<p>Bau bunga kopi pagi hari<br />
Menjalar diseluruh lereng pegungan Gayo<br />
Tapi aroma keuntungan,<br />
Tidak selalu pasti hinggap di setiap petani kopi.</p>
<p>Perempuan-perempuan berkerudung,<br />
Bersama embun tersembul di dedaunan<br />
dan buah-buah kopi basah<br />
Lereng-lereng begitu terjal. Gelap. Bahkan sangat gelap!</p>
<p>Aku sering tak sadarkan itu.<br />
Ketika duduk di warung kopi ”Singgah Mata”<br />
”Mantaapp&#8230;”, gumamku selalu<br />
Maafkan aku.</p>
<p><em> Takengon, Desember 2008</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_359" class="wp-caption aligncenter" style="width: 206px"><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/wajah_miring.jpg"><img class="size-medium wp-image-359" title="my face" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/wajah_miring.jpg?w=196&#038;h=300" alt="" width="196" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sket of Emil E. Sotja (by Eli)</p></div>
<p><strong>SURAT DARI SAHABAT -1-</strong><br />
“Kedamaian dan keindahan”<br />
Oleh: Emil E. Sotja<br />
Dan ku lantunkan nyanyian getaran jiwa :</p>
<p>Berkali kali. Sudah kulalui jalan-jalan ini:<br />
Banda Aceh-Lhokseumwe-Medan. Siang dan Malam.<br />
Jalan kelok-kelok, Biereun sampai Takengon<br />
Berpuluh kali. Siang atau malam, ku lalui.</p>
<p>Telah ku pijak tanah ini berbulan-bulan.<br />
Airnya aku minum berulang kali. Siang sampai malam.<br />
Tidak benar!! orang banyak bilang.<br />
Negeri ini tiada menumbuhkan ”keindahan”.</p>
<p>Bisakah kau serap nikmatnya:<br />
Orang saling sapa, lempar canda..dan tertawa<br />
Di dalam labi-labi, L300, bus malam, warung kopi,<br />
pasar-pasar, terminal, pematang sawah, kebun&#8230;<br />
Dengan hati awal yang bersih.<br />
Tiada pasang batas curiga</p>
<p>Dan jika ”perempuan” sang pembawa generasi,<br />
Merasakan indahnya dan damainya sendiri<br />
Maka tidak pantas kita ragu!!!<br />
Kedamaian dan keindahan. Makin dalam di tanam!!</p>
<p><em> Redelong, November 2008</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>DIALOG DENGAN &#8220;ORANG RUMAH&#8221; (1)</strong><br />
Oleh: Emil E. Sotja</p>
<p>“Padi di lumbung sudah habis bang”<br />
Petik dan jual dululah pinang-pinang<br />
“Musim pinang belum juga datang”<br />
Kebun Pisang! Ya jual semua pisang<br />
”Kedahuluan kera-kera datang menerjang!!”</p>
<p>Gila! Apa tersisa buat kita.<br />
”Aku punya mimpi, Bang&#8230;”<br />
Punya mimpi apa kau hai!! Orang rumah<br />
“Aku bukan –orang rumah- lagi: Aku Perempuan”<br />
“Ijinkan aku mengejar mimpi mimpi&#8230;”<br />
Aku pun mau mengejar mimpiku!!<br />
”ke mana Abang mau mengejar mimpi?”<br />
”Samakah mimpi kita Bang!!!”</p>
<p>Malam pun menjelang. Dan esok kembali terulang.<br />
Berulang kali terulang&#8230;&#8230;Entah sampai kapan&#8230;</p>
<p><em> Meureudu, Januari 2009</em></p>
<div id="attachment_364" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhok-mee-beach.jpg"><img class="size-medium wp-image-364" title="Lhok mee beach" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhok-mee-beach.jpg?w=300&#038;h=219" alt="" width="300" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">Lhokmee beach-Aceh (sket by Elip)</p></div>
<p><em> </em></p>
<p><strong>SURAT DARI SAHABAT -2-</strong><br />
“Perempuan dan Kehidupan”<br />
Oleh: Emil E. Sotja</p>
<p>Generasi – Perempuan &#8212; dan Sorga<br />
Banyak kebudayaan percaya<br />
Sejak berabad-abad. Adalah ”Satu”.<br />
Entah kenapa!!</p>
<p>Maka bebaskan ”perempauan”<br />
Berkesempatan mewariskan<br />
generasi kebaikan dan keindahan<br />
Di segala macam bentuk kehidupan&#8230;.</p>
<p><em> Meureudu, Februari 2009</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>AKANKAH PERAHUMU KEMBALI<br />
</strong>Oleh: Emil E. Sotja</p>
<p>Sudah berpuluh purnama,<br />
Perahu Abang semakin lama makin menjauh<br />
Tidak ku kenal tempat-tempat itu Bang<br />
Seperti kita waktu masih muda dahulu&#8230;</p>
<p>Mengapa harga ikan-ikan ini melambung!!<br />
Padahal kita, kan! Kita kan yang mencari Bang!!<br />
Entah kemanalah ikan-ikan tu<br />
Apakah mereka semakin membeci kami<br />
Atau kamilah yang mengusir mereka menjauh</p>
<p>Jika suara samudra menderu-deru,<br />
Angin menjilat-jilat atap, kencang begitu rupa<br />
Hatiku menjerit seperti tercabik-cabik Bang&#8230;<br />
Aku panjatkan Sholat. Ku dekap erat anak-anak<br />
Tepat di belakang pintu!!!</p>
<p>Setelah berpuluh purnama,<br />
Perahu Abang semakin tidak terlihat<br />
Hanya desir angin yang ku tangkap.<br />
Kian lama kian jelas hembus bisiknya<br />
Aku tertunduk. Aku tahu &#8230;<br />
Abang tidak akan pernah pulang.</p>
<p><em> Meureudu, April 2009</em></p>
<h5><em> </em></h5>
<div id="attachment_362" class="wp-caption aligncenter" style="width: 223px"><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/cover-ojodumeh.jpg"><img class="size-medium wp-image-362" title="women dissability" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/cover-ojodumeh.jpg?w=213&#038;h=300" alt="" width="213" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Women and night (sket by Elip)</p></div>
<p><strong>DIALOG DENGAN ORANG RUMAH (2)</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p>Maafkan abang, di separoh hidup kita</p>
<p>Hanya “mimpi” yang bisa aku nyatakan</p>
<p>Mimpi memang membingungkan</p>
<p>Sebagian orang bilang, tanpa mimpi kita tidak hidup</p>
<p>Orang lain lagi berdalih, mimpi saja itu omong kosong</p>
<p>Tapi inilah kenyataannya &#8230;</p>
<p>Separoh hidup kita bersama, hanyalah mimpi</p>
<p>Dan kita lantas ”bertekak”. Terus menerus &#8230;</p>
<p>Aku tidak tahu dalil-Nya.</p>
<p>Semoga mimpi, dan hanya mampu bermimpi</p>
<p>tidaklah dosa, baik di dunia maupun akhirat</p>
<p>Entahlah&#8230;apa di sorga nanti kita masih bisa bermimpi</p>
<p>Mungkin kerena semuanya sudah ada</p>
<p>lalu kita tidak mampu ”bermimpi” lagi</p>
<p><em> Banda Aceh, November 2009</em></p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_357" class="wp-caption aligncenter" style="width: 227px"><em><em><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhokmee02.jpg"><img class="size-medium wp-image-357" title="lhokMee02" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhokmee02.jpg?w=217&#038;h=300" alt="" width="217" height="300" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Lhokmee beach-Aceh (sket by Elip)</p></div>
<p><em> </em></p>
<p><strong>SOSOKMU, DI BATAS CAKRAWALA</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p>Suatu sore, selepas Mahrib</p>
<p>Bapakku pamit, katanya dia mau ke Parangtritis</p>
<p>Seingatku itu sudah berkali-kali terjadi</p>
<p>Berbulan bulan aku bertanya. Mencari jawab</p>
<p>Berceritalah bapak: begitu yang dia lakukan</p>
<p>kalau dia rindu orang tua sanak saudaranya</p>
<p>di kampung halaman</p>
<p>Berpulau-pulau&#8230;berhari hari jauhnya</p>
<p>Kampung halaman Bapak dari jarak dia berdiri</p>
<p>Sore ini&#8230;selepas mahrib, aku masih berdiri</p>
<p>di pantai Ulee Heuleu, memandangi batas cakrawala</p>
<p>Siang belumlah hilang,</p>
<p>Gelap malam masih malu menyelimuti bumi</p>
<p>Kulihat sosok-sosok orang-orang yang kurindu</p>
<p>Bercanda ria mereka, seakan menyapaku dan berkata:</p>
<p>”Janganlah bimbang &#8230;..”</p>
<p>Tempatku berdiri&#8230;berpulau-pulau&#8230;.</p>
<p>berhari-hari jauhnya dari kampungku</p>
<p>Dan tak kusadari sudah berkali-kali ini terjadi</p>
<p>Kurasakan getaran Bapakku duduk bersamaku</p>
<p>Memandangi cakrawala &#8230;</p>
<p><em> Banda Aceh, November 2009</em></p>
<div id="attachment_384" class="wp-caption aligncenter" style="width: 229px"><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/02_ujungbate.jpg"><img class="size-medium wp-image-384" title="02_UjungBate" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/02_ujungbate.jpg?w=219&#038;h=300" alt="" width="219" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Ujungbatee, Banda Aceh: &quot;Aku Duduk Bersama Bapak-ku&quot;</p></div>
<p><strong>HIBURAN OO&#8230; HIBURAN</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Akhir pekan masih semalam lagi kawan</p>
<p>Kau lintang pukang bak cacing kepanasan</p>
<p>Membunuh waktu dan merobek robek kalender</p>
<p>”Hai&#8230;ganteng kali”</p>
<p>”mau ke mana rupanya”, tanyaku</p>
<p>”Mau pergi, cari hiburan”</p>
<p>”Kalau kau tidak ikut terserah”,</p>
<p>Jawabnya seperti ajakan sekaligus ancaman.</p>
<p>Ooo&#8230;kemanakah kau yang bernama ”hiburan”</p>
<p>Mengapa kau penjara dia dalam keresahan</p>
<p>Kau seret pula aku dalam kebimbangan</p>
<p>Tidak cukupkah di sini&#8230;</p>
<p>Warung-warung kopi, Mie Razali, Ka-Ef-Ci</p>
<p>Pantai Uleu-leu, Panti Pirak dan yang lain&#8230;.</p>
<p>Main games, atau internet.</p>
<p>Tidak cukupkah di sini saja&#8230;</p>
<p>”Kawan kita di sini saja”</p>
<p>”Ataukah kau mulai emah iman!?”</p>
<p>”Jangan kau bicara iman!”</p>
<p>”Carilah iman di tempat-tempat ibadat atau panti asuhan”</p>
<p>”Selebihnya kau, bak mencati jarum dalam sekam!!”,</p>
<p>Bahasanya tegas, dalam logat yang khas.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Banda Aceh, Desember 2009</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TETAP SAJA TAK TERBENDUNG</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saudarara- saudari &#8230;</p>
<p>Nampaknya nafsu kita tetap saja</p>
<p>Ombak menjulang bergulung-gulung</p>
<p>Bumi dipijak menari bak tarian rampak</p>
<p>Tetapi, saudara-saudari &#8230;</p>
<p>Nafsu kita tetap saja nampaknya</p>
<p>Oo &#8230; jiwaku lemas</p>
<p>Terkuras kesedihan dan tangisan</p>
<p>Ratapanku dunia ini fana &#8230; fana &#8230; fana</p>
<p>Saudara-saudari &#8230;</p>
<p>Tetapi memang nafsu kita tetap saja</p>
<p>Menumpuk bata tinggi-tinggi</p>
<p>Pertebal kanan kiri semen dan pasir</p>
<p>Bersolek terus &#8230; semakin puas rasanya</p>
<p>Aku cakar bumi dalam-dalam</p>
<p>Aku sangga langit tinggi-tinggi</p>
<p>Mmm &#8230; aku bunuh sudah ratapan</p>
<p>Aku bayar habis kesedihan</p>
<p>Nafsuku, &#8230; tetap saja tidak terbendung</p>
<p>Saudara-saudariku &#8230;</p>
<p><em>Banda Aceh, Januari 2010</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/03_masjidmedan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-385" title="03_MasjidMedan" src="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/03_masjidmedan.jpg?w=217&#038;h=300" alt="Masjid Besar-Medan, Mahrib Dibalik Rimbun Daun" width="217" height="300" /></a></p>
<p><strong>DI SISI MANA AKU BERSIMPUH</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p>Dari Teuku Umar, Cut Nyak Dien,</p>
<p>Malahayati sampai Cik Di Tiro &#8230;</p>
<p>Berpuluh purnama ku cari</p>
<p>Jejak makam “pahlawan’ku</p>
<p>Tapi!!! Setiap kali berdiri</p>
<p>Tepat di hadapan pusaramu</p>
<p>Aku bingung &#8230;</p>
<p>Di sisi kiri atau di sisi kanankah</p>
<p>Aku mestinya bersimpuh</p>
<p>Dari pagi sampai kumandang mahrib siap</p>
<p>Tidak kunjung berkesudahan bingungku</p>
<p>Termangu dalam renungan</p>
<p>Sudah tidak penting lagikah bagimu</p>
<p>Pahlawanku&#8230;</p>
<p>Di sini mana mesti aku bersimpuh?!</p>
<p>Karena bagi roh jiwa pembebasan</p>
<p>Ruang dan waktu tetaplah baik adanya</p>
<p>Ataukah&#8230;</p>
<p>Hai pahlawanku. Sedang kau ajarkan padaku</p>
<p>Terus menjunjung pembebasan</p>
<p>Menepis kesewenangan dan ketidakadilan:</p>
<p>&#8230; pada siapapun, di sisi manapun&#8230;!!!</p>
<p><em>Banda Aceh, Maret 2010</em></p>
<p><strong>MERAH AIR RANUB SIRIH</strong></p>
<p>Oleh: Emil E. Elip</p>
<p>Baru saja nenek tua meludah ke tanah</p>
<p>Secepat itu mulutnya lalu komat-kamit</p>
<p>Melumat ranub-sirih</p>
<p>Dari Aceh sampai Maluku dan Timor</p>
<p>Nenek tua serupa dia, mengunyah sirih</p>
<p>Di pesta-pesta istana</p>
<p>Silaturahmi antar suku dan bangsa</p>
<p>Dari tirai-tirai hajat kawin</p>
<p>Sampai ritual-ritual penyembuhan</p>
<p>Sirih nenek tua hadir sebagai ”simbol”&#8230;</p>
<p>Pagi itu. Nenek tua kembali memilin ranub-sirih</p>
<p>Anak laki-laki dan perempuan, cucu-cucu,</p>
<p>Mak Cik dan keponakan&#8230;</p>
<p>Keluar memberi salam lalu pergi menyongsong hari</p>
<p>Bersepeda, labi-labi, becak, mobil</p>
<p>Ke gedung-gedung tinggi bergulat dengan kehidupan</p>
<p>Persaingan, kemenangan, keuntungan, pangkat,</p>
<p>Kekalahan &#8230;bahkan sampai penipun dan pengkhianatan</p>
<p>Sore menjelang. Nenek tua mengunyah ranub-sirih</p>
<p>Menunggu mereka kembali&#8230;.</p>
<p>Hanya diakah yang mampu meresapi</p>
<p>Makna mengunya ”sirih” persahabatan</p>
<p>&#8230;kesantunan dan jiwa silaturahim&#8230;</p>
<p><em>Banda Aceh, Mei 2010</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://emilianuselip.wordpress.com/category/my-poems/'>MY POEMS:</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/349/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=349&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2010/02/25/my-life-poems/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/wajah_miring.jpg?w=196" medium="image">
			<media:title type="html">my face</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhok-mee-beach.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Lhok mee beach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/cover-ojodumeh.jpg?w=213" medium="image">
			<media:title type="html">women dissability</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/lhokmee02.jpg?w=217" medium="image">
			<media:title type="html">lhokMee02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/02_ujungbate.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">02_UjungBate</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emilianuselip.files.wordpress.com/2010/02/03_masjidmedan.jpg?w=217" medium="image">
			<media:title type="html">03_MasjidMedan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>First Electricity in Kayupuring</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/11/17/first-electricity-in-kayupuring/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/11/17/first-electricity-in-kayupuring/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 07:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLES (15):]]></category>
		<category><![CDATA[village electricity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Keterlibatan saya dan teman-teman diPetungkriyono, sudah lebih dari sekedar relasi seorang mahasiswa praktik penelitian terhadap responden, informan, atau masyarakat wilayah penelitiannya. Perjumpaan dan pergaulan saya dan teman-teman dengan masyarakat Petungkriyono dimulai sejak kira-kira 1985, ketika kami bergabung dengan tim penelitian Keluarga Mahasiswa Antropologi-UGM. Waktu itu kami sedang ingin membuat semacam “laboratorium sosial”, dimana kami bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=343&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterlibatan saya dan teman-teman diPetungkriyono, sudah lebih dari sekedar relasi seorang mahasiswa praktik penelitian terhadap responden, informan, atau masyarakat wilayah penelitiannya.</p>
<p>Perjumpaan dan pergaulan saya dan teman-teman dengan masyarakat Petungkriyono dimulai sejak kira-kira 1985, ketika kami bergabung dengan tim penelitian Keluarga Mahasiswa Antropologi-UGM. Waktu itu kami sedang ingin membuat semacam “laboratorium sosial”, dimana kami bisa berinteraksi dalam periode yang panjang sekaligus mengamati perubahan yang terjadi atas masyarakat di situ dari waktu ke waktu: yakni masyarakat Petungkriyono.</p>
<p>Petungkriyono, adalah nama dari suatu kecamatan di wilayah pegunungan. Secara administrasi kecamatan ini terletak di Kab. Pekalongan di bagian Selatan. Dia berbatasan dengan pegunungan Dieng, berdampingan dengan wilayah Banjarnegara. Jaraknya sekitar 25 Km dari Kota Pekalongan. Tahun 1985 sampai sekitar tahun 2000, Petungkriyono masih tergolong kecamatan terpencil. Kita masih harus berjalan antara 5-7 jam, melalui jalan-jalan makadam dan setapak, masuk keluar hutan yang sangat baik terjaga, untuk mencapai ibu kota Kecamatan Petungkriyono. Hanya ada satu kali trip angkutan umum dari dan ke Petungkriyono dalam satu hari dari Doro, sebuah kota kecamatan lain di bawah Petungkriyono. Jangan tanya listrik masuk atau belum waktu itu, kalau kondisi jalan dan transportasi masih semacam ini.</p>
<p>Beberapa tahun sudah kami secara reguler berkunjung ke Petungkriyono. Sudah beberapa kali tim penelitian mahasiswa diterjunkan di Petungkriyono. Hampir semua hal dan tema tentang Petungkriyono sudah dihasilkan. Jika bisa disebut ilmu, maka yang kami peroleh dari Petungkriyono sudah lebih dari cukup. Sangat cukup. Telah menghasilkan beberapa sarjana dan master. Dan tibalah suatu saat dimana kami mulai resah. Selalu bertanya dan berpikir apakah tidak ada yang bisa diberikan kepada masyarakat. Apakah kami hanya akan membawa pulang semuanya untuk diri kami sendiri. Lantas membiarkan masyarakat Petungkriyono bergulir sendiri dalam kehidupannya, karena hanya memenuhi hasrat standard ”steril” dan objektif penelitian ilmiah bagi diri kami sendiri.</p>
<p>Ide pertama muncul adalah membuat ”kincir listrik”, karena hal itu pula yg kami alami jika malam tidak bisa kerja apa-apa kecuali berkumpul di dapur membakar ketela dan ikan asin, menyedu kopi, dan ngobrol. Maka mulailah kami mencari dimana yang bisa bantu membuat kincir besi harga murah. Mencari dusun mana yang layak, dimana banyak sungai-sungai kecil yang dapat disatukan melalui saluran-saluran tambahan, untuk membuat agar aliran debit air cukup deras memutar roda kincir. Dari dusun ke dusun kami survai, dan akhirnya jatuh pilihan di dusun kecil bernama Kayupuring. Maka kerja-kerja pelibatan masyarakt dimulai disini, di Kayupuring. Kerja-kerja ini yang beberapa tahun kemudian kami tahu sering disebut sebagai ”kerja pemberdayaan” oleh para aktivis LSM.</p>
<p>Kincir di buat di Pekalongan. Beruntunglah kami sebab ada salah satu teman kami yang bapaknya mempunyai bengkel las di Kota Pekalongan. Tinggi kincir hampir dua meter dibuat tahap demi tahap dengan harga semurah mungkin, tapi cukup kokoh. Maklum tidak ada uang. Sementara itu di Kayupuring gerakan masyarakat dimulai dengan membuat saluran-saluran air. Menyatukan tiga sungai kecil ke dalam sebuah saluran yang lebih besar. Semuanya dilakukan dengan bergotong royong, secara sukarela terjadual, dari kelompok ke kelompok lain.</p>
<p>Instalasi listrik di jalan-jalan menghubungkan antara rumah satu dengan rumah lainnya pun mulai dipasang. Bambu-bambu besar tersedia banyak di sekitar dusun. Instalasi listrik di setiap rumah juga dimulai. Masing-masing rumah, dengan terpaksa, karena kurangnya kekuatan Watt yang diperhitungkan akan dihasilkan, terpaksa hanya 1 titik lampu sebesar 25 Watt.</p>
<p>Sungai dan saluran air yang dibuat semacam air peluncur sudah siap. Tiang-tiang listrik dari bambu, instalasi listrik dan bolam lampu 25 Watt sudah siap di rumah-rumah. Tinggal menunggu sang kincir besi. Pagi itu sebelum subuh, ada kurang lebih 75 orang laki-laki dewasa dan kaum muda Dusun Kayupuring, sudah bergegas menembus kabut dan embun pagi dengan obor di tangan, bambu, tali, dan segala perlengkapan pikul lainnya. Jam 8 pagi mereka bersepakat sudah harus sampai di Doro, kota kecamatan terakhir sebelum kita menembus naik ke pegunungan Petungkriyono. Mereka harus beristirahat cukup, sebelum memikul kincir besi naik turun bukit Petungkriyono selama 5 sampai 6 jam.</p>
<p>Truk pengangkut kincir dari pekalongan tiba di Doro jam 10.00 siang. Dan pekerjaan besar segera dimulai: ”memikul kincir besi setinggi hampir 2 meter”. Semua perbekalan di cek ulang, tali, kayu pemikul, parang, alas pikul, plastik, nasi perbekalan, air minum, dll. Pelan tapi pasti, dengan langkah yang kadang terseok karena beratnya kincir, tim penggendong terus bergerak. Saling bergantian satu sama lain. Ada gelak canda ciri khas masyarakat pegunungan. Ada tawa ada juga amarah tentu saja. Kita sudah tidak perlu memberi komando karena meraka tahu pasti apa yang dilakukan dalam soal gendong-menggendong, angkat mengangkat.</p>
<p>Sedikit demi sedikit, dari bukit ke bukit, akhirnya kinchir itu sampai pula di tempat seharusnya dia berada. Waktu itu sekitar jam lima sore. Lega rasanya seluruh penduduk. Tanpa imbalan apapun, nasi dan ikan asin mereka usahakan sendiri. Ohhh&#8230;.Tuhanku&#8230;betapa indahnya kesederhanaan ini, yang dilatari oleh semangat yang sepertinya tanpa batas. Keinginan untuk ”terang” telah menguasai semua jiwa hari itu. Bergetar dada kami masing-masing, seperti tidak kuasa, tidak kuat, tidak layak menerima ”semangat hidup” luar biasa dari masyarakat Kayupuring, dibanding sebesar apalah uang yang kita sumbangkan untuk membuat kincir.</p>
<p>Hari inipekerjaan berhenti sampai sang kincir bersandar di rumah kincir. Selesai sudah untuk sementara. Besok masih ada lagi kerja. Menjelang mahrib semua pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa Dusun Kayupuring, tenggelam dalam kabut malam yang dingin. Dan Gelap!!</p>
<p>Keesokan harinya, setelah pekerjaan-pekerjaan di kebun, ladang, sawah, atau padang penggembalaan selsai, penduduk kembali berkumpul di dekat rumah kincir. Kincir harus diangkat kembali, diletakkan di-”dudukan” yang telah disediakan. Kincir ini harus berdiri pada poros dudukannya. Berkali-kali bongkar pasang terjadi, dan penduduk tidak kenal lelah. Menjelang sore kincir telah duduk berdiri pada dudukannya. Semunya pas seperti apa yang telah diperhitungakan. Perlengkaan ”belt” dililitkan dari kincir ke dinamo.</p>
<p>Semuanya telah siap. Hampir seluruh pendudukan Kayupuring, tumpah ruah di sekitar kincir air yang kira-kira terletak di bawah dusun mereka. Ibu-ibu tua tetap menunggu di rumah mereka masing-masing. Pintu saluran air dibuka, dan air terjun buatan itu kena pada jari-jari kincir. Kincir berputar semakin cepat, dinamo mengeluarkan suara menderu, listrik telah terjadi. Kekuatannya semakin meningkat. Dan ketika dibuka aliran listrik itu, maka menyala lah lampu-lampu di beberapa perempatan jalan di dusun kayupuring. Satu per satu stop-contact di rumah-rumah dibuka, dan pijar bola lampu menyala. Waktu menunjukkan jam empat sore, ketika pijar bola lampu pertama kali menyala. Antusiasme belum tarasa, karena hari masih terang.</p>
<p>Dan memang luar biasa apa yang kita sebut ”terang”. Menjelang mahrib Dusun Kayupuring bak terang pasar malam, meski hanya dierangi lampu 15 Watt dan 25 Watt. Hari merambat malam, dan semakin terasa terang. Kami berjalan mengelilingi dusun yang tidak begitu luas itu. Anggota keluarga dari setiap rumah berkumpul di ruang tamu. Tampak berseri-seri wajah mereka dibawah cahaya lampu 25 Watt. Yah&#8230;memang hanya satu lampu dalam setiap rumah, dan itu telah membawa ”terang” baru seisi keluarga. Beberapa anak nampak mulai mencoba-coba membolak balik buku pelajaran mereka. Ingin membaca di terang lampu listrik. Di dalam kamar atau di dapur dari rumah-rumah itu, kami amati lampu minyak tanah tetap dinyalakan.</p>
<p>Malam itu adalah malam pijar lampu listrik di Dusun Kayupuring, dan yang pertama kali di Petungkriyono. Di malam yang lain kami sempat mengamati Dusun kayupuring dari bukit sebelah, dan betapa indah terang dusun ini di antara hutan-hutan sekitarnya yang gelap. Cerita tentang listrik di Kayupuring segera menyebar diseantero Petungkriyono.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian setelah malam itu, entah dari mana asalnya, listrik telah menyala di beberapa dusun lain di Petungkriyono. Inisiatif-inisiatif lokal telah muncul ”meniru” kincir ala Kayupuring meski dalam ukuran yang berbeda-beda. Mengapa harus menunggu pemerintah kalau bisa dilakukan sendiri semampunya. ”Terang” telah mulai menyebar di Petungkriyono. Dan pasti akan semakin banyak dan meluas, karena ”terang” adalah kebutuhan kita bersama, siapapun!! [ee]</p>
<br />Posted in ARTICLES (15): Tagged: village electricity <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emilianuselip.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emilianuselip.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=343&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/11/17/first-electricity-in-kayupuring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POPULAR MEDIA</title>
		<link>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/04/16/popular-media/</link>
		<comments>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/04/16/popular-media/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 10:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emilianusblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[POPULAR MEDIA (2):]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emilianuselip.wordpress.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Posted in POPULAR MEDIA (2):<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=272&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Posted in POPULAR MEDIA (2):<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emilianuselip.wordpress.com&amp;blog=4599084&amp;post=272&amp;subd=emilianuselip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emilianuselip.wordpress.com/2009/04/16/popular-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f589420eb1933c0b29a5bc9ba765d96?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emilianusblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
